Memories

Memories
Memories

Rabu, 05 April 2017

Curahan Hati Seuntai Kertas

Kehidupanku tentang seuntai kertas yang katanya hanyalah bagian dari Sampah pekarangan. DI waktu yang lampau tidaklah seburuk itu, seperti kemalangan yang tak mampu menutup bekas luka kehidupan ini. Kemudian, kisah dulu itu masih selalu merindukan putih, suci, polos, dan bersih sebelum semuanya terjadi. Dunia hanyalah saksi bisu terhadap lembaran-lembaran malangku yang ternoda oleh goresan-goresan luka dari pena hidup yang entah tangan apa gerangan berani menulisnya untuk kesekian kalinya.

Tersadar Aku di sebuah perenungan.  Sadar jika aku bukanlah siapa-siapa untuk dilirik dan dihargai. Lantas, pengorbananku hanyalah angin lalu bagi tulisan-tulisan yang sebenarnya membutuhkanku, bahkan kehidupan tak akan mengenal tinta semisalnya aku ini sang egois, fundamental, dan lebih otoriter atau menyamai sikap tinta-tinta itu.

Aku tak bisa berkata apa-apa untuk menyuarakan kata “emansipasi”. Aku ingin diapresiasi juga, sama halnya dengan tulisan-tulisan yang terus menodai kesucianku. Komunikasi antara aku dan mereka memang ditakdirkan searah. Aku boleh mengetahui makna dan maksud mereka, tetapi satu huruf pun dariku, manalah mungkin mereka mendengarnya. Aku hanyalah seuntai kertas yang akan selalu ditindas oleh tulisan-tulisan yang disalurkan melalui penari pena yang sangat lihai dan lincah mempecundangiku dengan tinta-tintanya.

Aku bahkan lebih mengenal teori-teori kehidupan dari setiap manusia pada umumnya melalui tulisan-tulisan mereka. Manusia  membenarkan pemikirannya sendiri. Lucunya, tingkah laku hanya sampai pada jamahan penalaran dan indera, selebihnya itu merupakan bagian dari kelainan jiwa. Sebenarnya mereka terlahir dengan keterbatasan karunia, oleh karena itu mereka saling melengkapi baik dari materi maupun jiwa, atau roh kehidupan mereka. Bukankah dasar religius mengatakan demikian tentang kebijaksanaan kehidupan.

Semua seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan indra oleh seorang ilusionis. Aku adalah kertas kehidupan, terlahir dari pikiran manusia, serta berguna bagi manusia itu sendiri. Imajinasiku tinggi, membawaku pada mimpi-mimpi dan khayalan nyata. Halusinasiku hidup di dalam pikiran yang telah menjelma menjadi tulisan-tulisan representasi kehidupan di dunia sebenarnya.  Hingga aku sedikit tercengang dengan komunikasi rumit tentang tulisan filosofi mimpi oleh pena hitam yang berpegang teguh pada ilmu mistis, dan pena putih yang berpegang teguh pada logika.
“Bunga tidur melenyapkan para logika. Untuk sekian kalinya logistik bertingkah bukan atas perintah kesadaran”. Sahut Pena hitam.
“Ia memang seperti itu, siapa pun dia. Dia tak mungkin dapat mengendalikan bunga tidurnya sendiri”. Komentar pena putih.
“alam bawah sadarlah sutradaranya itu.  Sutradara itu punya hak tunggal untuk kehidupan bawah sadar otak. Bersyukur jika mimpi-mimpi itu indah.. Atau mimpi-mimpi itu justru mimpi-mimpi buruk yang mungkin tak pernah diharapkan oleh sang pemilik kepala?”. Jawab sang pena hitam untuk meyakinkan argumennya.

“kamu tak boleh mengatakan pernyataan seperti itu sahabatku. Sanggupkah engkau mempertanggungjawabkan subjektifmu jika tulisan hukum menuntutmu?
“hahahha... kamu terlalu terbelengu oleh tulisan filsafat materialismemu sahabat. Apakah engkau berpandangan bahwa kehidupan itu hanya sebuah logika semata sobat? Atau memang hatimu tak hidup sama sekali? Dengan mudahnya engkau membenarkan paradigmamu sendiri... hhahahh.”
“Hei Pena tua! Sombong sekali engkau dengan pengetahuanmu itu. Mentang tulisanmu banyak, engkau boleh beretorika seperti itu. Sadarlah sebentar lagi tintamu habis, kemudian engkau dan tulisanmu akan  menjadi sampah masyarakat di tempat pembuangan sampah”.
“kita lihat saja, kau atau aku yang berakhir seperti itu”. Sahut pena plastik hitam sembari meninggalkan pena putih sendiri.

Para pena boleh saja berdebat tak kunjung usai tentang mimpi. Tetapi, mana peduli mereka terhadap aku ini. Aku mengetahui segala sesuatu tentang tulisan apa saja, mendengar semuanya dan menyaksikan lika-liku kehidupan mereka. Meskipun demikian aku tak dapat melakukan apa-apa untuk merespon sandiwara-sandiwara kemunafikan, kesesatan, serta dosa-dosa mereka.
 Hati nuraniku hancur tak karuan memikul tulisan-tulisan seperti itu. Tapi aku harus menerimanya. Aku memang tak mampu menghapus dan mengubahnya, setidaknya masih ada tangan-tangan suci yang telah menerbitkan tulisan-tulisan baik. Meskipun presentasinya sedikit saja, setidaknya mampu mengobati luka batinku ini. Aku sadar, tulisanlah yang menghidupiku. Entah nantinya bernasib buruk atau tidak, itu tergantung pada tulisan yang mengikatku.

Dalam kesendirian, tulisan mencoba mengekspresi meskipun dalam sebuah imajinasi. Aku kaya akan konsep-konsep kehidupan yang aku pelajari dari setiap tulisan-tulisan yang silih berganti menghitamkan keputihanku. Terkadang aku mesti berimajinasi mengikuti alur-alur fiksi cerpen-cerpen dan novel-novel, atau terbuai dalam keindahan puisi-puisi. Aku sangat menikmati indahnya sastra-sastra dari berbagai aliran, aku juga memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas dalam berbagai buku kajian ilmiah tentang kehidupan. Akulah sumber kehidupan untuk berbagai buku-buku, media cetak, serta berbagai ensiklopedia lainnya.
Sekali lagi aku mengatakan tentang diriku sendiri, sebab akulah kertas yang hidup oleh tinta-tinta yang menodaiku. Aku akan mengatakan indah untuk hidup dalam imajinasiku. Aku memiliki segalanya hanya dalam sebuah mimpi yang disutradarai oleh seorang penulis.
Aku akan mengisahkan fiksi rendahku yang dihadiahkan oleh seorang penulis asing dan bukan siapa-siapa bagi kehidupan nyatanya sendiri.
“ Kala itu aku menghabiskan senja pada bayang-bayang ilalang  di selatan pulau tempat aku dilahirkan. Aku memiliki seorang kekasih tercantik melebihi bidadari, aku dan kekasihku sehati meresepsi kepermaian dunia kala senja. Kami adalah pasangan Ilusionis yang selalu nampak berseri di balik cakrawala sepermai kehidupan. Namun, kebahagiaan kami perlahan menghilang oleh iming-iming matahari di barat langit. Seorang insan dengan tatapan kosong seakan tak terima matahari begitu cepatnyaa berpaling, dan hanya menyapa hangat kehampaan di tengah pengawasan cakrawala. Tentang burung-burung dan binatang-binaatng yang kembali ke sarang masing-masing untuk istirahat. Toh, mereka juga karunia Tuhan terindah, memperelok bumi dengan caranya masing-masing.” Begitulah sepenggal karangan fiksi itu.

Dalam tulisan itu, Sang logis lantas terus melemah dalam bernalar, entah sampai kapan aku membagi rasa dalam fiksi penulis. Ketika aku berinteraksi melalui pikiran penulis. Penulis menghadirkan tokoh-tokoh dari dunia fiksi. Hidupku pun indah penuh bijaksana dalam mengartikan kehidupan fiksi terjemahan dari dunia nyata. Penulis menggunakan aliran realis naturalisme sastra sehingga aku bahkan tak dapat memisahkan rangkaian kehidupan nyata dan fiksi. Meskipun penulis bebas menentukan takdir di dunia fiksi, tapi ia tetap bijaksana semestinya dalam merasionalkan imajinasinya sesuai dengan kehidupan di dunia nyata.

Penulis hidup di dunia nyata, sementara aku di dunia halusinasi. Orang-orang dunia nyata atau orang-orang  yg membaca kisahku menganggap ini merupakan kisah yang indah. Aku berkomunikasi, beraktifitas dalam pikiran penulis selayaknya di dunia nyata.
Semua seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan indra oleh seorang ilusionis. Sepenggal lagi aku sangat bahagia di ending fiksi, untuk kehidupan yang telah penulis berikan untukku.
“Hampir setiap harinya,  aku  selalu saja terpanah oleh senyuman indah kekasihku, gadis cantik berparas ayu dan cerdas .......... ................................... .................................................. ................................ .................. ...................sekian”.

Musuh dan sahabatku adalah tulisan. Takdir dan nasibku ada pada tinta-tinta yang menodaiku. Aku hanyalah seuntai kertas yang menaburkan keindahan dan ensiklopedia di waktu fajar. Namun, aku mesti bertemu senja yang tetap menghargaiku atau aku mungkin akan menjadi kertas sampah. Apapun nasibku nanti, aku akan tetap bahagia sebab aku pernah menjadi emas kehidupan dunia...

By: Sergiokun