Memories

Memories
Memories

Rabu, 05 April 2017

Curahan Hati Seuntai Kertas

Kehidupanku tentang seuntai kertas yang katanya hanyalah bagian dari Sampah pekarangan. DI waktu yang lampau tidaklah seburuk itu, seperti kemalangan yang tak mampu menutup bekas luka kehidupan ini. Kemudian, kisah dulu itu masih selalu merindukan putih, suci, polos, dan bersih sebelum semuanya terjadi. Dunia hanyalah saksi bisu terhadap lembaran-lembaran malangku yang ternoda oleh goresan-goresan luka dari pena hidup yang entah tangan apa gerangan berani menulisnya untuk kesekian kalinya.

Tersadar Aku di sebuah perenungan.  Sadar jika aku bukanlah siapa-siapa untuk dilirik dan dihargai. Lantas, pengorbananku hanyalah angin lalu bagi tulisan-tulisan yang sebenarnya membutuhkanku, bahkan kehidupan tak akan mengenal tinta semisalnya aku ini sang egois, fundamental, dan lebih otoriter atau menyamai sikap tinta-tinta itu.

Aku tak bisa berkata apa-apa untuk menyuarakan kata “emansipasi”. Aku ingin diapresiasi juga, sama halnya dengan tulisan-tulisan yang terus menodai kesucianku. Komunikasi antara aku dan mereka memang ditakdirkan searah. Aku boleh mengetahui makna dan maksud mereka, tetapi satu huruf pun dariku, manalah mungkin mereka mendengarnya. Aku hanyalah seuntai kertas yang akan selalu ditindas oleh tulisan-tulisan yang disalurkan melalui penari pena yang sangat lihai dan lincah mempecundangiku dengan tinta-tintanya.

Aku bahkan lebih mengenal teori-teori kehidupan dari setiap manusia pada umumnya melalui tulisan-tulisan mereka. Manusia  membenarkan pemikirannya sendiri. Lucunya, tingkah laku hanya sampai pada jamahan penalaran dan indera, selebihnya itu merupakan bagian dari kelainan jiwa. Sebenarnya mereka terlahir dengan keterbatasan karunia, oleh karena itu mereka saling melengkapi baik dari materi maupun jiwa, atau roh kehidupan mereka. Bukankah dasar religius mengatakan demikian tentang kebijaksanaan kehidupan.

Semua seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan indra oleh seorang ilusionis. Aku adalah kertas kehidupan, terlahir dari pikiran manusia, serta berguna bagi manusia itu sendiri. Imajinasiku tinggi, membawaku pada mimpi-mimpi dan khayalan nyata. Halusinasiku hidup di dalam pikiran yang telah menjelma menjadi tulisan-tulisan representasi kehidupan di dunia sebenarnya.  Hingga aku sedikit tercengang dengan komunikasi rumit tentang tulisan filosofi mimpi oleh pena hitam yang berpegang teguh pada ilmu mistis, dan pena putih yang berpegang teguh pada logika.
“Bunga tidur melenyapkan para logika. Untuk sekian kalinya logistik bertingkah bukan atas perintah kesadaran”. Sahut Pena hitam.
“Ia memang seperti itu, siapa pun dia. Dia tak mungkin dapat mengendalikan bunga tidurnya sendiri”. Komentar pena putih.
“alam bawah sadarlah sutradaranya itu.  Sutradara itu punya hak tunggal untuk kehidupan bawah sadar otak. Bersyukur jika mimpi-mimpi itu indah.. Atau mimpi-mimpi itu justru mimpi-mimpi buruk yang mungkin tak pernah diharapkan oleh sang pemilik kepala?”. Jawab sang pena hitam untuk meyakinkan argumennya.

“kamu tak boleh mengatakan pernyataan seperti itu sahabatku. Sanggupkah engkau mempertanggungjawabkan subjektifmu jika tulisan hukum menuntutmu?
“hahahha... kamu terlalu terbelengu oleh tulisan filsafat materialismemu sahabat. Apakah engkau berpandangan bahwa kehidupan itu hanya sebuah logika semata sobat? Atau memang hatimu tak hidup sama sekali? Dengan mudahnya engkau membenarkan paradigmamu sendiri... hhahahh.”
“Hei Pena tua! Sombong sekali engkau dengan pengetahuanmu itu. Mentang tulisanmu banyak, engkau boleh beretorika seperti itu. Sadarlah sebentar lagi tintamu habis, kemudian engkau dan tulisanmu akan  menjadi sampah masyarakat di tempat pembuangan sampah”.
“kita lihat saja, kau atau aku yang berakhir seperti itu”. Sahut pena plastik hitam sembari meninggalkan pena putih sendiri.

Para pena boleh saja berdebat tak kunjung usai tentang mimpi. Tetapi, mana peduli mereka terhadap aku ini. Aku mengetahui segala sesuatu tentang tulisan apa saja, mendengar semuanya dan menyaksikan lika-liku kehidupan mereka. Meskipun demikian aku tak dapat melakukan apa-apa untuk merespon sandiwara-sandiwara kemunafikan, kesesatan, serta dosa-dosa mereka.
 Hati nuraniku hancur tak karuan memikul tulisan-tulisan seperti itu. Tapi aku harus menerimanya. Aku memang tak mampu menghapus dan mengubahnya, setidaknya masih ada tangan-tangan suci yang telah menerbitkan tulisan-tulisan baik. Meskipun presentasinya sedikit saja, setidaknya mampu mengobati luka batinku ini. Aku sadar, tulisanlah yang menghidupiku. Entah nantinya bernasib buruk atau tidak, itu tergantung pada tulisan yang mengikatku.

Dalam kesendirian, tulisan mencoba mengekspresi meskipun dalam sebuah imajinasi. Aku kaya akan konsep-konsep kehidupan yang aku pelajari dari setiap tulisan-tulisan yang silih berganti menghitamkan keputihanku. Terkadang aku mesti berimajinasi mengikuti alur-alur fiksi cerpen-cerpen dan novel-novel, atau terbuai dalam keindahan puisi-puisi. Aku sangat menikmati indahnya sastra-sastra dari berbagai aliran, aku juga memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas dalam berbagai buku kajian ilmiah tentang kehidupan. Akulah sumber kehidupan untuk berbagai buku-buku, media cetak, serta berbagai ensiklopedia lainnya.
Sekali lagi aku mengatakan tentang diriku sendiri, sebab akulah kertas yang hidup oleh tinta-tinta yang menodaiku. Aku akan mengatakan indah untuk hidup dalam imajinasiku. Aku memiliki segalanya hanya dalam sebuah mimpi yang disutradarai oleh seorang penulis.
Aku akan mengisahkan fiksi rendahku yang dihadiahkan oleh seorang penulis asing dan bukan siapa-siapa bagi kehidupan nyatanya sendiri.
“ Kala itu aku menghabiskan senja pada bayang-bayang ilalang  di selatan pulau tempat aku dilahirkan. Aku memiliki seorang kekasih tercantik melebihi bidadari, aku dan kekasihku sehati meresepsi kepermaian dunia kala senja. Kami adalah pasangan Ilusionis yang selalu nampak berseri di balik cakrawala sepermai kehidupan. Namun, kebahagiaan kami perlahan menghilang oleh iming-iming matahari di barat langit. Seorang insan dengan tatapan kosong seakan tak terima matahari begitu cepatnyaa berpaling, dan hanya menyapa hangat kehampaan di tengah pengawasan cakrawala. Tentang burung-burung dan binatang-binaatng yang kembali ke sarang masing-masing untuk istirahat. Toh, mereka juga karunia Tuhan terindah, memperelok bumi dengan caranya masing-masing.” Begitulah sepenggal karangan fiksi itu.

Dalam tulisan itu, Sang logis lantas terus melemah dalam bernalar, entah sampai kapan aku membagi rasa dalam fiksi penulis. Ketika aku berinteraksi melalui pikiran penulis. Penulis menghadirkan tokoh-tokoh dari dunia fiksi. Hidupku pun indah penuh bijaksana dalam mengartikan kehidupan fiksi terjemahan dari dunia nyata. Penulis menggunakan aliran realis naturalisme sastra sehingga aku bahkan tak dapat memisahkan rangkaian kehidupan nyata dan fiksi. Meskipun penulis bebas menentukan takdir di dunia fiksi, tapi ia tetap bijaksana semestinya dalam merasionalkan imajinasinya sesuai dengan kehidupan di dunia nyata.

Penulis hidup di dunia nyata, sementara aku di dunia halusinasi. Orang-orang dunia nyata atau orang-orang  yg membaca kisahku menganggap ini merupakan kisah yang indah. Aku berkomunikasi, beraktifitas dalam pikiran penulis selayaknya di dunia nyata.
Semua seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan indra oleh seorang ilusionis. Sepenggal lagi aku sangat bahagia di ending fiksi, untuk kehidupan yang telah penulis berikan untukku.
“Hampir setiap harinya,  aku  selalu saja terpanah oleh senyuman indah kekasihku, gadis cantik berparas ayu dan cerdas .......... ................................... .................................................. ................................ .................. ...................sekian”.

Musuh dan sahabatku adalah tulisan. Takdir dan nasibku ada pada tinta-tinta yang menodaiku. Aku hanyalah seuntai kertas yang menaburkan keindahan dan ensiklopedia di waktu fajar. Namun, aku mesti bertemu senja yang tetap menghargaiku atau aku mungkin akan menjadi kertas sampah. Apapun nasibku nanti, aku akan tetap bahagia sebab aku pernah menjadi emas kehidupan dunia...

By: Sergiokun


Minggu, 26 Maret 2017

Mimpi Pejuang

Coretan-coretan kertas mendongkrakkan jiwa kaum tertidur,
Mereka memimpikan jeritan-jeritan minor yang hampir tak terdengar para penguasa,
Pena-pena terdahulu telah lenyap termakan zaman,
Hanya menyisahkan jejak di kemudian hari..
Pena-pena sekarang kembali mengisah,
meski merana tak kunjung habis..
Mengingat Mulut bapak terlalu banyak menelan kertas-kertas kesasar,
Otak bapak tentu lebih cerdas melebihi Einstein,
Tegahnya kaum tertindas malah mendewa sang penindas,
Bukankah jejak-jejak tinta sang pena membekas dalm hati ibu pertiwi?
Engkau diperintah bukan cuma menatapnya! Rasakanlah dengan hati dan belaskasihmu...
Nanti engkau melihat coretan coretan pejuang sedang meraih cita-cita penjejak..
Engkau akan mendapati sorakan melawan dari pejuang-pejuang pemikir,
Akhirnya..
Engkau kaget melihat saudara-saudaramu menderita,
Engkau pun tersadar!
dongeng-dongeng tidur melelapkanmu dalam kebodohan..
Merdeka atau terus ditindas,
Melawan atau mengalah..
Nasib Ibu Pertiwi ada pada jawaban dan perjuanganmu...
Suka
Komentari

Kamis, 02 Maret 2017

Tong kosong nyaring Bunyinya

Kejam mereka menggelitik angkuh isi otak kita
Berlagak cerdas melebihi filsuf maha dewa
Mereka cabe menyorakan tolol meludahi kita

Tak beradap,
 Mulut bangkai penuh retorika kemunafikan menghina kita pengecut

Harkat diri ditendang oleh mereka
Jati diri diinjak-injak menuju titik penghabisan

Ijasah mereka malu manampakan wajah sarjananya

Mereka tak berilmu,Tak berfilsafat
Hati nurani habis termakan keangkuhan

Cuihh..... Sok....
"Tong kosong nyaring bunyinya"

Rabu, 01 Maret 2017

Filosofi Pejuang Pemikir



Penindasan sekarang bukan lagi penindasan fisik, melainkan penindasan ideologi, ekonomi, pola pikir. Kapitalisme, imperialisme merajalela di negeri kita, yang pada akhirnya menindas rakyat kita dengan keji dan sadis. Wakil rakyat justru terus menerus makan uang rakyat, bahkan ada yang berkoalisi dengan para musuh. Bisa apa rakyat kita? Aset kita justru dirampas orang lain. Jangan salah kalau sampai hari ini bangsa kita tetap saja terkurung dalam kemiskinan.

Malam itu, tampak belasan mahasiswa sedang asyiknya ngopi di sebuah gubuk bambu tradisional. Mereka menamai gubuk tersebut, gubuk Marhaen.

“Mahasiswa semestinya punya tanggung jawab besar terhadap perubahan dan menegakan pancasila. Mahasiswa diajak kritis bukan hanya dalam konteks akademik saja, melainkan turut berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah sosial di tengah masyarakat.. Aku heran dengan kawan-kawan kita di luar sana bung, hanya bisa terlelap dengan sistem global”. Pekik Rino, aktifis kelas kakap dengan tubuh pas-pasan mengenakan jaket merah bergambar logo GMNI. Keberanian dan kecerdasannya membuat ia disegani para mahasiwa dan dosen seantero kampus Orange.

“Saya pun sependapat dengan bung. Tentu untuk mencapai itu semua, haruslah dengan kesadaran berjuang melalui banyak membaca buku dan aksi, bukan hanya eksis di sosmed saja bung. Ha-ha-ha”. Komentar Andre, mahasiswa fakultas Geografi. Pola nalar dan ilmunya membuat teman-teman omek lain takut berdebat dengannya.

“Bagaimana mungkin kemerdekaan sejati tercapai? Tenaga kita habis untuk membaca dan demonstrasi. Apa yang kita dapat? Apa yang rakyat dapat? Tidak ada kan? Kita seperti orang gila. Aspirasi kita hanya angin lalu bagi mereka. Tak ada bukti nyata dari ucapan dan janji-janji mereka alias kita di-php kawan-kawan”. Aster, mahasiswa fakultas Matematika berambut gimbal dengan tampang menyeremkan kalau lagi marah. 

“Demonstrasi terus menerus! Jangan menyerah kawan-kawan. Kita kuat karena kita satu kesatuan anti penindasan”. Pekik Rino antusias bergelora. “Selama kita masih bernafas, kita akan terus menerus mengguncangkan cakrawala sampai tak ada lagi penghisapan manusia atas manusia lain”. Serunya lanjut.

“Saya sangat setujuh kawan-kawan. Kita memang mahasiswa-mahasiswa gila. Mimpi-mimpi kaum marhaen hanyalah imajinasi belaka kalau kita tak bersoftskill dalam mempengaruhi massa dan bekerjasama dengan golongan sepaham”. Sahut Rian, ketua HMPS prodi PPKN.

“hah-ha-ha-ha.... kemerdekaan sejati itu tak ada bung. Kita ini memang gila kawan-kawan.. hah-ha-ha...” komentar Rino sambil tertawa berbahak-bahak. 

Dewi malam tanpak tersenyum memancarkan cahaya sindirannya, seakan  menyaksikan liku-liku hidup yang penuh lakon dan sandiwara kemunafikan. Kelas sosial akan tetap statis, kaum miskin selamanya akan miskin. Neokolim akan terus mewarisi kerakusan terhadap anak cucunya. Imbasnya besar, telah menggeser jauh cita-cita luhur Pancasila. Bangsa ini seperti tak memiliki martabat sama sekali.

“Problematika sekarang perlu dikaji sekritis dan sedalam-dalamnya sebagai objek kita dalam melawan! Teori- teori perlu kita makan semaksimal mungkin, untuk menjadi landasan kita dalam berjuang”. Sahut Zeno, mahasiswa Teknik Informatika.

“Bila perlu kita mesti mengkolaborasi ilmu-ilmu kita sesuai dengan basik akademik masing-masing”. Pekik Rino melanjut sembari menegukkan kopi. “Kita mesti lihai mempengaruhi massa”. Sambungnya.

“Kita harus jeli membedakan mana kawan dan mana lawan. Perlu kawan-kawan ketahui, cita-cita kita sangatlah mahal sebab kita bukan hanya melawan bangsa asing, kita juga harus melawan bangsa kita sendiri. Jangan pernah merubah haluan untuk keluar dari garis. Di luar sana begitu banyak politik, provokatif, suap yang nanti akan menghadang kita kawan-kawan”. Pekik Yohanes, mahasiswa Georgrafi yang baru saja lulus skripsi. 

“Merdeka!.......”. lajut Yohanes sambil mengacungkan tangan kiri tanda melawan penindasan.
“Merdeka!......”.  jawab mereka kompak.

“Saya tidak banyak berbicara, karena saya lebih melihat bagaimana kalian berjuang sehabis ini”. Pinta Ivan, mahasiswa paling senior di gubuk sembari mengangkat bukunya “Das Kapitalis” karya Marx. “Kalian perhatikan buku ini. Buku ini tak ada gunanya jika teori dan ilmunya tak diamalkan”. Lanjut Ivan seakan memamerkan pengetahuan filsafatnya.

Diskusi bukan hanya sampai malam itu. Setiap harinya, forum diskusi kian berkembang bersamaan dengan pemikiran yang berkembang pula. Kini belasan mahasiswa pejuang-Pemikir berhasil menyadarkan masa, baik mahasiswa maupun masyarakat. 

Semua siap turun ke jalan dengan data dan landasan matang. Berbagai aliansi sudah teramat kokoh antara omek-omek dan ormas-ormas, serta ribuan masyarakat akan siap turun ke jalan mengusik ibu Pertiwi. Ditambah lagi advokasi-advokasi berbagai birokrasi dan beberapa lembaga pemerintahan yang pro kemerdekaan.

Tanggal di kalender negara menunjukan angka 17, ketika itu raja siang mengamuk membakar jutaan masa hampir di setiap kota-kota besar. Keringat bercucuran membasahi dada setiap insan pejuang. Dengan sorakan dan jiwa nasionalisme telah membuka mata Ibu Pertiwi. Dunia terguncang, terombang ambing harus bagaimana. Mata-mata hanya tertuju di satu objek. Anjing-anjing semakin takut, hanya dapat sembunyi di balik kotoran-kotoran mereka. Layar kaca dunia terus meliput pelosok terbesar di bagian tenggara Asia. 

Ibu pertiwi pun melinangkan air matanya, bukan anjing- anjing asing yang tersadis menggoreskan luka di lubuk hati terdalam, bukan juga bahagia dalam keharuan. Masih tersisah puluh ribuan iblis yang lebih keji dari anjing jorok yang liar. Iblis yang mengalir dalam merah darah nusantara dan menodai kesucian putihnya tulang tanah air. 

Begitulah kisah di hari kelam, tentang sejarah mengukir dimensi akan untaian perjuangan tersistematis memperindahan lukisan ibu Pertiwi. Burung Garuda masih mengepakkan sayapnya menjelajah angkasa raya. Senyuman hangat berseri menghiasi wajah-wajah mungil revolusioner, petanda masih banyak pahlawan di masa kini yang siap menabur benih kemerdekaan. Kelak masih ada pula yang melahap rakus buah dari benih itu, dengan egois tak rela berbagi. Akankah masih ada insan ingin berbagi dan siap menabur benih baru?

Jembatan emas begitu teramat panjang untuk masuk dalam kemerdekaan sejati. Kegelisahan menghampir tak menentu, dalam logika nalar tak mampu lagi menyahut pertanyaan pejuang-pejuang sejati. “Sudah sejauh mana kita menyebrang? Dimakah ujung jembatan mulia ini? Ayo kawan-kawan teruslah melangkah sampai pada kemerdekaan sebenarnya!!!
Merdeka!!!

Karya, Sergiokun Keor


Cerpen mengenang GmnI kom. Kanjuruhan Malang.

Fajar di Timur Nusantara



Pelangi memacarkan panoramanya menghiasi air terjun wae Ri’i kala hujan menyisahkan embun senja yang menyejukan Nuca Lale. Terdengar dari kejauhan liup-liup bunyi seruling dari seorang petuah suku melantunkan nada nendong petanda senja telah tiba.  Senyuman lepas dan kalem  perlahan menyerikan wajah-wajah mungil seperti adanya. Mereka adalah Bintang, Simus dan Renaldi, tiga sahabat yang selalu bersama.  Mereka baru saja meninggalkan pondok tua milik  pak Landu. Keceriaan bocah-bocah desa itu sepertinya terlintas dari rasa  puas terhadap gundukan kayu-kayu bakar yang tadinya sudah terkumpul sebelum hujan tiba. Mereka pulang dengan  memikulkan kayu-kayu yang sudah terikat rapi.  Seperti biasa setelah jauh melangkah, kelelahan perlahan menghampir, memaksa mereka berhenti untuk beristirahat melepaskan lelah di tengah hamparan padang ilalang.  Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan hingga mereka sampai di gubuk masing-masing. Mereka menatapnya hangat menutup sore di pelosok timur nusantara. 

Nenek Bintang sangat senang, melihat cucunya pulang membawakan kayu bakar.
“Almarhum ayah dan bundamu akan bangga melihat kamu rajin seperti ini”. Lirih nenek sambil mengelus rambut Bintang.
“nenek, kan aku cucu nenek yang paling baik di kampung ini”. Sahut Bintang sambil berjalan mencari mobil kayu mainan kecilnya.
“kamu mandi dulu sana, keburu malam lo.  Awas hantu jorok akan mendekatimu kalau kamu tak mandi”
“ah... nenek! Aku mandi dulu ya”. Jawab Bintang sambil berlari menuju bahu rumah untuk mandi.
Desa Bintang masih sangat tradisional dan jauh dari jamahan perhatian pemerintah dan budaya modern. Guru-guru lulusan sarjana pun masih menyimpan keraguan   mengajar di desa Bintang.  Listrik saja belum ada, apalagi jaringan telepon. Buku dan infrastruktur belum memadai. Bahkan  ruangan  kelas hanya berlantaikan tanah dan berdinding cercahan bambu.
“Toh, memang pulau Jawa akan terus dimanjakan ibu pertiwi. Timur nusantara seperti dianaktirikan dalam keterasingan. Kalian itu harus pandai-pandai. Masa depan desa kita ada pada kalian anak-anak”. Ceramah ibu Yasinta di ujung KBM Pendidikan Kewarganegaraan di kelas Bintang.
Ketika kesendirian menghampir, selalu saja Bintang memeluk foto ayah dan ibundanya. Hanya memandang foto, tapi belum pernah sekali saja ia menatap langsung tubuh almarhum ayah dan ibundanya. 

 Dulunya Keluarga Bintang terkenal hangat dan harmonis dikalangan orang-orang desa meskipun hanya sebuah keluarga sederhana. Almarhum ayah Bintang terkenal cerdas dan lihai bermain Caci yang menurut budaya Manggarai,  tarian Caci itu tari perang sekaligus tradisi permainan warisan leluhur  oleh sepasang pria sejati yang bertarung dengan cambuk dan perisai. 

Almarhum ayah Bintang meninggal  tertembak oleh tentara Indonesia sewaktu perang timor-timor. Ayah Bintang dituding sebagai mata-mata yang bekerja untuk Timor Leste. Sehingga ia diburu dan ditembak sewaktu ia mengunjungi sahabatnya di Atambua. Sedangkan ibu Bintang meninggal sebulan setelah ayah Bintang meninggal. Ibu Bintang meninggal pasca melahirkan Bintang. Ketika itu, ibu Bintang dibantu oleh ende Gina (ibu Gina), seorang dukun beranak paling hebat di desa, karena mampu membantu melahirkan selayaknya bidan kandungan. Berkat jasa dari Ibu Gina , Bintang pun lahir dengan tubuh sehat dan imut.  Akan tetapi, ibu  Bintang menghembuskan nafas terakhirnya tepat beberapa menit setelah Bintang dilahirkan.

Bintang tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung tempat ayahnya dulu dilahirkan. Bintang  merupakan siswa SD kelas 5, sama seperti kedua sahabatnya Renaldi dan Simus.  Setiap harinya mereka menjalani rutinitas seperti bocah-bocah desa pada umumnya. Mereka sesekali bermain jauh sampai ke persawahan desa hanya untuk memancing katak sawah dan ikan atau berenang di sungai besar.  Kadang mereka juga mesti menyusuri hutan belantara hanya untuk menembak burung selayaknya pemburu dengan menggunakan katapel tradisional andalan mereka. Terlepas dari itu semua, Bintang sadar dengan tugas pokoknya, yakni: mencari kayu bakar seminggu sekali dan mencarikan makanan sapi dan kambing setiap harinya. Di usianya yang tergolong muda, ia mampu membagi aktifitasnya dengan baik. Setiap malamnya ia belajar dengan bimbingan kakek. Kadang rasa gelisahnya menggelora, sehingga ia kerap bertanya kepada kakek atau neneknya.
“Kek, aku iri sama teman-teman. Mereka semua punya ibunda dan ayah. Sedangkan aku hanyalah anak yatim piatu tak punya ayah ibu”.
“Sudahlah nak, ayah ibu kamu bahagia kok di surga. Mereka sering lo, mendatangi Bintang. Hanya Bintang tidak dapat melihat mereka. Berdoa saja ya, untuk ayah dan ibu..”. jawab kakek sambil memalingkan muka, tanda tak kuasa menahan gelisah.

Sesekali Bintang   menjatuhkan air matanya ketika kesepian. Ia teringat dengan semua cerita kakek tentang kronologi meninggalnya ibunda dan ayahnya. Kakek dan nenek hanya dapat pasrah dan mencoba semampu tenaga untuk menghibur Bintang yang tengah gelisah. Baik kakek, maupun nenek sesekali menyesal telah menceritakan semua duka itu kepada Bintang. Tapi, apalah daya, kalau tidak diceritakan, pasti  Bintang akan terus menerus penasaran dan bertanya memaksa kakek dan nenek untuk menjelaskan semuanya.  

Ketika Bintang lulus SD, nenek dikagetkan dengan ucapan Bintang.  Sehingga air mata nenek pun jatuh berderai tak kuasa mendengar rintihan kata-kata cucu kesayangan mereka yang tampak dewasa.
“Aku ingin menjadi tentara atau polisi nek untuk membalas dendam kematian ayah. Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mencari orang yang membunuh ayah. Akan aku tembak dadanya dengan pistol biar tahu rasa mereka. Aku juga akan sekolah setinggi-tingginya . Ketika aku sukses, aku akan kembali demi kakek nenek dan orang-orang kampung..  Nakek pernah bilang kan? Seandainya ayah masih hidup, pasti ibu juga tak akan meninggal kan nek? Ayo jawab nek!!!”.
“Tak boleh balas dendam nak, itu tidak baik untuk dirimu sendiri. Cukup engkau belajar dengan giat saja, ayahmu pasti bangga jika kelak engkau sukses.” Pinta nenek sambil memeluk erat tubuh Bintang..

Begitulah kehidupan Bintang dalam menjelajah waktu dan musim di pelosok negeri. Tak terasa 23 tahun sudah usai bersamaan dengan kerinduan orang kampung yang hampir melupakan Bintang dan pemuda-pemuda kampung lainnya.  Orang kampung hanya mampu mengisahan duka kelam kehidupan Bintang yang teramat piluh, sehingga memaksanya harus merantau dan meninggalkan kakek dan neneknya di masa kelam. Rentetan waktu kelam sangatlah sadis, tentang budaya kampung yang melepaskan  pemuda-pemudinya harus meninggalkan kampung menuju perantauan ketika usia mereka sudah dewasa. Tak terkecuali Bintang, terombang ambing pada tanda-tanda kehidupan barunya, yang telah membawanya pada ritual Wu’at Wa’i sebelum pergi jauh ke luar pulau bersama beberapa pemuda kampung termasuk Renaldi dan Simus. Keputusan, yang jika dikenang akan meninggalkan kisah kepedihan atau mimpi-mimpi masa depan dalam cerita dimensi. Kelam, ketika Bintang harus berpamitan, tentunya kedukaan besar bagi kakek dan nenek merelakan Bintang merantau demi masa depannya. Ia menjauh dari kampung sembari memikul tas bersama beberapa teman pemudanya. Tas yang berisikan beberapa pakaian dan ole-ole khas orang-orang kampung. Mereka diantar menggunakan beberapa kereta kuda juragan Dolo sampai ke pesisir pantai. Nantinya kapal barang akan mengangkut mereka ke tempat perantauan.

Belakangan ini beberapa pemuda sudah kembali. Tapi mereka tak dapat mengisahkan secara pasti keberadaan Bintang terhadap kakek dan nenek Bintang. Ada yang mengatakan, dulunya kerja seperusahan sama Bintang tetapi usai mereka semua dipecat, tinggal Bintang, Renaldi dan Simus yang bertahan. Ada yang mencoba menanyakan Bintang, Simus dan Renaldi  kemudian hari di tempat mereka bekerja, akan tetapi tak seorang pun buruh maupun orang perusahan yang mengetahui keberadaan Mereka. 

Lambat laut, duka besar pun tiba. Ketika nenek Bintang meninggal setelah sebulan berbaring di tempat tidur karena sakitnya teramat parah. Sehari setelah nenek Bintang disemayamkan, kakek Bintang yang sedang berduka dan orang-orang desa dikagetkan dengan kedatangan Renaldi sahabat Bintang.  Renaldi nampak berwibawa dan tampak sukses ketika ia menyumbangkan beberapa pakaian kepada orang-orang desa.
“apakah kamu mengetahui keberadaan Bintang nak?. Kakek ini sudah tua nak”. Tanya kakek dengan bersedih.
“kakek tak usah bersedih, berkat kejujuran dan kepatuhan, Bintang dijadikan anak angkat oleh bos kami. Ia disekolahkan di luar negeri. Sebelum Bintang keluar negeri, ia menitipkan surat dan uang”. Sahut Renaldi sambil menyodorkan surat dan amplop uang titipan Bintang.

Piluh kepedihan kakek sedikit terobati, ketika membaca isi surat dari Bintang. Ia jadi teringat dengan ucapan bintang kelam. “Aku ingin menjadi tentara atau polisi nek untuk membalasdendam kematian ayah. Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi dan.........”.
 Belumlah terlambat untuk bahagia, di akhir senja ada malam yang memancarkan purnama terang. Besoknya fajar akan datang, dengan embun dan mentari yang teramat indah. Akankah hidup seperti itu, suka dan dukanya memang sangat mempesona. Nikmati hidup sekali masih hidup, sebelum kita beralih ke dunia lain. Doa kakek dan nenek akan terkabul, sebab cinta akan bertumbuh bersama dengan fajar yang lama telah mati.Fajar itu bukan imajinasi dan mimpi belaka. Itu nyata bagi sebuah kemerdakaan sejati.
 Tampak siang itu hampir semua orang desa gejolak menyaksikan pemandangan asing , jauh beberapa meter diatas desa mereka, beberapa helikopter berbendera Merah Putih, masih asyiknya liup-liup bagaikan capung-capung lapar. Helikopter-helikopter itu satu per satu mendarat di atas halaman kampung. Hampir semua penghuni rumah, keluar menyaksikan itu semua. Penghuni capung-capung raksasa tersebut lantas menginjakan kaki di atas tanah Nuca Lale. Sebagian besar dari mereka tampak gagah, tampan dan cantik dengan mengenakan jas berdasi serta kacamata gelap. Mereka kemudian berkumpul membentuk barisan, lalu memberi hormat terhadap penghuni helikopter terakhir. Orang itu pun keluar dengan gagah pula dan disambut dengan hormat oleh rekan-rekannya. Ia seorang pejabat yang paling terhormat diantara penghuni capung-capung raksasa tersebut.. 

Ia juga mengenakan jas hitam berdasi dengan tulisan di bagian  dada kiri jas tersebut “Dr. IR. BINTANG FAJAR, S.S., M.Sc.
 Dia adalah ketua DPR RI. 
                              

Karya,
Sergiokun Keor