Kehidupanku
tentang seuntai kertas yang katanya hanyalah bagian dari Sampah pekarangan. DI
waktu yang lampau tidaklah seburuk itu, seperti kemalangan yang tak mampu
menutup bekas luka kehidupan ini. Kemudian, kisah dulu itu masih selalu
merindukan putih, suci, polos, dan bersih sebelum semuanya terjadi. Dunia
hanyalah saksi bisu terhadap lembaran-lembaran malangku yang ternoda oleh
goresan-goresan luka dari pena hidup yang entah tangan apa gerangan berani
menulisnya untuk kesekian kalinya.
Tersadar
Aku di sebuah perenungan. Sadar jika aku
bukanlah siapa-siapa untuk dilirik dan dihargai. Lantas, pengorbananku hanyalah
angin lalu bagi tulisan-tulisan yang sebenarnya membutuhkanku, bahkan kehidupan
tak akan mengenal tinta semisalnya aku ini sang egois, fundamental, dan lebih
otoriter atau menyamai sikap tinta-tinta itu.
Aku tak
bisa berkata apa-apa untuk menyuarakan kata “emansipasi”. Aku ingin diapresiasi
juga, sama halnya dengan tulisan-tulisan yang terus menodai kesucianku. Komunikasi
antara aku dan mereka memang ditakdirkan searah. Aku boleh mengetahui makna dan
maksud mereka, tetapi satu huruf pun dariku, manalah mungkin mereka
mendengarnya. Aku hanyalah seuntai kertas yang akan selalu ditindas oleh
tulisan-tulisan yang disalurkan melalui penari pena yang sangat lihai dan
lincah mempecundangiku dengan tinta-tintanya.
Aku
bahkan lebih mengenal teori-teori kehidupan dari setiap manusia pada umumnya
melalui tulisan-tulisan mereka. Manusia
membenarkan pemikirannya sendiri. Lucunya, tingkah laku hanya sampai
pada jamahan penalaran dan indera, selebihnya itu merupakan bagian dari
kelainan jiwa. Sebenarnya mereka terlahir dengan keterbatasan karunia, oleh
karena itu mereka saling melengkapi baik dari materi maupun jiwa, atau roh kehidupan
mereka. Bukankah dasar religius mengatakan demikian tentang kebijaksanaan
kehidupan.
Semua
seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar
kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan
indra oleh seorang ilusionis. Aku adalah kertas kehidupan, terlahir dari
pikiran manusia, serta berguna bagi manusia itu sendiri. Imajinasiku tinggi, membawaku
pada mimpi-mimpi dan khayalan nyata. Halusinasiku hidup di dalam pikiran yang
telah menjelma menjadi tulisan-tulisan representasi kehidupan di dunia
sebenarnya. Hingga aku sedikit tercengang
dengan komunikasi rumit tentang tulisan filosofi mimpi oleh pena hitam yang berpegang
teguh pada ilmu mistis, dan pena putih yang berpegang teguh pada logika.
“Bunga
tidur melenyapkan para logika. Untuk sekian kalinya logistik bertingkah bukan
atas perintah kesadaran”. Sahut Pena hitam.
“Ia
memang seperti itu, siapa pun dia. Dia tak mungkin dapat mengendalikan bunga
tidurnya sendiri”. Komentar pena putih.
“alam
bawah sadarlah sutradaranya itu.
Sutradara itu punya hak tunggal untuk kehidupan bawah sadar otak.
Bersyukur jika mimpi-mimpi itu indah.. Atau mimpi-mimpi itu justru mimpi-mimpi
buruk yang mungkin tak pernah diharapkan oleh sang pemilik kepala?”. Jawab sang
pena hitam untuk meyakinkan argumennya.
“kamu tak
boleh mengatakan pernyataan seperti itu sahabatku. Sanggupkah engkau
mempertanggungjawabkan subjektifmu jika tulisan hukum menuntutmu?
“hahahha...
kamu terlalu terbelengu oleh tulisan filsafat materialismemu sahabat. Apakah
engkau berpandangan bahwa kehidupan itu hanya sebuah logika semata sobat? Atau
memang hatimu tak hidup sama sekali? Dengan mudahnya engkau membenarkan paradigmamu
sendiri... hhahahh.”
“Hei Pena
tua! Sombong sekali engkau dengan pengetahuanmu itu. Mentang tulisanmu banyak,
engkau boleh beretorika seperti itu. Sadarlah sebentar lagi tintamu habis,
kemudian engkau dan tulisanmu akan
menjadi sampah masyarakat di tempat pembuangan sampah”.
“kita
lihat saja, kau atau aku yang berakhir seperti itu”. Sahut pena plastik hitam
sembari meninggalkan pena putih sendiri.
Para pena
boleh saja berdebat tak kunjung usai tentang mimpi. Tetapi, mana peduli mereka
terhadap aku ini. Aku mengetahui segala sesuatu tentang tulisan apa saja,
mendengar semuanya dan menyaksikan lika-liku kehidupan mereka. Meskipun demikian
aku tak dapat melakukan apa-apa untuk merespon sandiwara-sandiwara kemunafikan,
kesesatan, serta dosa-dosa mereka.
Hati nuraniku hancur tak karuan memikul
tulisan-tulisan seperti itu. Tapi aku harus menerimanya. Aku memang tak mampu
menghapus dan mengubahnya, setidaknya masih ada tangan-tangan suci yang telah
menerbitkan tulisan-tulisan baik. Meskipun presentasinya sedikit saja,
setidaknya mampu mengobati luka batinku ini. Aku sadar, tulisanlah yang
menghidupiku. Entah nantinya bernasib buruk atau tidak, itu tergantung pada
tulisan yang mengikatku.
Dalam kesendirian,
tulisan mencoba mengekspresi meskipun dalam sebuah imajinasi. Aku kaya akan
konsep-konsep kehidupan yang aku pelajari dari setiap tulisan-tulisan yang
silih berganti menghitamkan keputihanku. Terkadang aku mesti berimajinasi
mengikuti alur-alur fiksi cerpen-cerpen dan novel-novel, atau terbuai dalam
keindahan puisi-puisi. Aku sangat menikmati indahnya sastra-sastra dari
berbagai aliran, aku juga memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas
dalam berbagai buku kajian ilmiah tentang kehidupan. Akulah sumber kehidupan
untuk berbagai buku-buku, media cetak, serta berbagai ensiklopedia lainnya.
Sekali
lagi aku mengatakan tentang diriku sendiri, sebab akulah kertas yang hidup oleh
tinta-tinta yang menodaiku. Aku akan mengatakan indah untuk hidup dalam
imajinasiku. Aku memiliki segalanya hanya dalam sebuah mimpi yang disutradarai oleh
seorang penulis.
Aku akan
mengisahkan fiksi rendahku yang dihadiahkan oleh seorang penulis asing dan
bukan siapa-siapa bagi kehidupan nyatanya sendiri.
“ Kala itu aku menghabiskan senja pada bayang-bayang
ilalang di selatan pulau tempat aku
dilahirkan. Aku memiliki seorang kekasih tercantik melebihi bidadari, aku dan
kekasihku sehati meresepsi kepermaian dunia kala senja. Kami adalah pasangan
Ilusionis yang selalu nampak berseri di balik cakrawala sepermai kehidupan.
Namun, kebahagiaan kami perlahan menghilang oleh iming-iming matahari di barat
langit. Seorang insan dengan tatapan kosong seakan tak terima matahari begitu
cepatnyaa berpaling, dan hanya menyapa hangat kehampaan di tengah pengawasan cakrawala.
Tentang burung-burung dan binatang-binaatng yang kembali ke sarang
masing-masing untuk istirahat. Toh, mereka juga karunia Tuhan terindah,
memperelok bumi dengan caranya masing-masing.” Begitulah sepenggal karangan
fiksi itu.
Dalam
tulisan itu, Sang logis lantas terus melemah dalam bernalar, entah sampai kapan
aku membagi rasa dalam fiksi penulis. Ketika aku berinteraksi melalui pikiran
penulis. Penulis menghadirkan tokoh-tokoh dari dunia fiksi. Hidupku pun indah
penuh bijaksana dalam mengartikan kehidupan fiksi terjemahan dari dunia nyata.
Penulis menggunakan aliran realis naturalisme sastra sehingga aku bahkan tak
dapat memisahkan rangkaian kehidupan nyata dan fiksi. Meskipun penulis bebas
menentukan takdir di dunia fiksi, tapi ia tetap bijaksana semestinya dalam
merasionalkan imajinasinya sesuai dengan kehidupan di dunia nyata.
Penulis
hidup di dunia nyata, sementara aku di dunia halusinasi. Orang-orang dunia
nyata atau orang-orang yg membaca
kisahku menganggap ini merupakan kisah yang indah. Aku berkomunikasi,
beraktifitas dalam pikiran penulis selayaknya di dunia nyata.
Semua
seperti mimpi seumur hidup. Bunga tidur berkesinambungan dengan alam sadar
kehidupan ini, menghidupi delusif dan imajinatif sehingga mampu mengongkritkan
indra oleh seorang ilusionis. Sepenggal lagi aku sangat bahagia di ending fiksi,
untuk kehidupan yang telah penulis berikan untukku.
“Hampir setiap harinya, aku selalu saja terpanah oleh senyuman indah kekasihku,
gadis cantik berparas ayu dan cerdas ..........
...................................
.................................................. ................................
.................. ...................sekian”.
Musuh dan
sahabatku adalah tulisan. Takdir dan nasibku ada pada tinta-tinta yang
menodaiku. Aku hanyalah seuntai kertas yang menaburkan keindahan dan
ensiklopedia di waktu fajar. Namun, aku mesti bertemu senja yang tetap
menghargaiku atau aku mungkin akan menjadi kertas sampah. Apapun nasibku nanti,
aku akan tetap bahagia sebab aku pernah menjadi emas kehidupan dunia...
By: Sergiokun



