Memories

Memories
Memories

Rabu, 01 Maret 2017

Filosofi Pejuang Pemikir



Penindasan sekarang bukan lagi penindasan fisik, melainkan penindasan ideologi, ekonomi, pola pikir. Kapitalisme, imperialisme merajalela di negeri kita, yang pada akhirnya menindas rakyat kita dengan keji dan sadis. Wakil rakyat justru terus menerus makan uang rakyat, bahkan ada yang berkoalisi dengan para musuh. Bisa apa rakyat kita? Aset kita justru dirampas orang lain. Jangan salah kalau sampai hari ini bangsa kita tetap saja terkurung dalam kemiskinan.

Malam itu, tampak belasan mahasiswa sedang asyiknya ngopi di sebuah gubuk bambu tradisional. Mereka menamai gubuk tersebut, gubuk Marhaen.

“Mahasiswa semestinya punya tanggung jawab besar terhadap perubahan dan menegakan pancasila. Mahasiswa diajak kritis bukan hanya dalam konteks akademik saja, melainkan turut berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah sosial di tengah masyarakat.. Aku heran dengan kawan-kawan kita di luar sana bung, hanya bisa terlelap dengan sistem global”. Pekik Rino, aktifis kelas kakap dengan tubuh pas-pasan mengenakan jaket merah bergambar logo GMNI. Keberanian dan kecerdasannya membuat ia disegani para mahasiwa dan dosen seantero kampus Orange.

“Saya pun sependapat dengan bung. Tentu untuk mencapai itu semua, haruslah dengan kesadaran berjuang melalui banyak membaca buku dan aksi, bukan hanya eksis di sosmed saja bung. Ha-ha-ha”. Komentar Andre, mahasiswa fakultas Geografi. Pola nalar dan ilmunya membuat teman-teman omek lain takut berdebat dengannya.

“Bagaimana mungkin kemerdekaan sejati tercapai? Tenaga kita habis untuk membaca dan demonstrasi. Apa yang kita dapat? Apa yang rakyat dapat? Tidak ada kan? Kita seperti orang gila. Aspirasi kita hanya angin lalu bagi mereka. Tak ada bukti nyata dari ucapan dan janji-janji mereka alias kita di-php kawan-kawan”. Aster, mahasiswa fakultas Matematika berambut gimbal dengan tampang menyeremkan kalau lagi marah. 

“Demonstrasi terus menerus! Jangan menyerah kawan-kawan. Kita kuat karena kita satu kesatuan anti penindasan”. Pekik Rino antusias bergelora. “Selama kita masih bernafas, kita akan terus menerus mengguncangkan cakrawala sampai tak ada lagi penghisapan manusia atas manusia lain”. Serunya lanjut.

“Saya sangat setujuh kawan-kawan. Kita memang mahasiswa-mahasiswa gila. Mimpi-mimpi kaum marhaen hanyalah imajinasi belaka kalau kita tak bersoftskill dalam mempengaruhi massa dan bekerjasama dengan golongan sepaham”. Sahut Rian, ketua HMPS prodi PPKN.

“hah-ha-ha-ha.... kemerdekaan sejati itu tak ada bung. Kita ini memang gila kawan-kawan.. hah-ha-ha...” komentar Rino sambil tertawa berbahak-bahak. 

Dewi malam tanpak tersenyum memancarkan cahaya sindirannya, seakan  menyaksikan liku-liku hidup yang penuh lakon dan sandiwara kemunafikan. Kelas sosial akan tetap statis, kaum miskin selamanya akan miskin. Neokolim akan terus mewarisi kerakusan terhadap anak cucunya. Imbasnya besar, telah menggeser jauh cita-cita luhur Pancasila. Bangsa ini seperti tak memiliki martabat sama sekali.

“Problematika sekarang perlu dikaji sekritis dan sedalam-dalamnya sebagai objek kita dalam melawan! Teori- teori perlu kita makan semaksimal mungkin, untuk menjadi landasan kita dalam berjuang”. Sahut Zeno, mahasiswa Teknik Informatika.

“Bila perlu kita mesti mengkolaborasi ilmu-ilmu kita sesuai dengan basik akademik masing-masing”. Pekik Rino melanjut sembari menegukkan kopi. “Kita mesti lihai mempengaruhi massa”. Sambungnya.

“Kita harus jeli membedakan mana kawan dan mana lawan. Perlu kawan-kawan ketahui, cita-cita kita sangatlah mahal sebab kita bukan hanya melawan bangsa asing, kita juga harus melawan bangsa kita sendiri. Jangan pernah merubah haluan untuk keluar dari garis. Di luar sana begitu banyak politik, provokatif, suap yang nanti akan menghadang kita kawan-kawan”. Pekik Yohanes, mahasiswa Georgrafi yang baru saja lulus skripsi. 

“Merdeka!.......”. lajut Yohanes sambil mengacungkan tangan kiri tanda melawan penindasan.
“Merdeka!......”.  jawab mereka kompak.

“Saya tidak banyak berbicara, karena saya lebih melihat bagaimana kalian berjuang sehabis ini”. Pinta Ivan, mahasiswa paling senior di gubuk sembari mengangkat bukunya “Das Kapitalis” karya Marx. “Kalian perhatikan buku ini. Buku ini tak ada gunanya jika teori dan ilmunya tak diamalkan”. Lanjut Ivan seakan memamerkan pengetahuan filsafatnya.

Diskusi bukan hanya sampai malam itu. Setiap harinya, forum diskusi kian berkembang bersamaan dengan pemikiran yang berkembang pula. Kini belasan mahasiswa pejuang-Pemikir berhasil menyadarkan masa, baik mahasiswa maupun masyarakat. 

Semua siap turun ke jalan dengan data dan landasan matang. Berbagai aliansi sudah teramat kokoh antara omek-omek dan ormas-ormas, serta ribuan masyarakat akan siap turun ke jalan mengusik ibu Pertiwi. Ditambah lagi advokasi-advokasi berbagai birokrasi dan beberapa lembaga pemerintahan yang pro kemerdekaan.

Tanggal di kalender negara menunjukan angka 17, ketika itu raja siang mengamuk membakar jutaan masa hampir di setiap kota-kota besar. Keringat bercucuran membasahi dada setiap insan pejuang. Dengan sorakan dan jiwa nasionalisme telah membuka mata Ibu Pertiwi. Dunia terguncang, terombang ambing harus bagaimana. Mata-mata hanya tertuju di satu objek. Anjing-anjing semakin takut, hanya dapat sembunyi di balik kotoran-kotoran mereka. Layar kaca dunia terus meliput pelosok terbesar di bagian tenggara Asia. 

Ibu pertiwi pun melinangkan air matanya, bukan anjing- anjing asing yang tersadis menggoreskan luka di lubuk hati terdalam, bukan juga bahagia dalam keharuan. Masih tersisah puluh ribuan iblis yang lebih keji dari anjing jorok yang liar. Iblis yang mengalir dalam merah darah nusantara dan menodai kesucian putihnya tulang tanah air. 

Begitulah kisah di hari kelam, tentang sejarah mengukir dimensi akan untaian perjuangan tersistematis memperindahan lukisan ibu Pertiwi. Burung Garuda masih mengepakkan sayapnya menjelajah angkasa raya. Senyuman hangat berseri menghiasi wajah-wajah mungil revolusioner, petanda masih banyak pahlawan di masa kini yang siap menabur benih kemerdekaan. Kelak masih ada pula yang melahap rakus buah dari benih itu, dengan egois tak rela berbagi. Akankah masih ada insan ingin berbagi dan siap menabur benih baru?

Jembatan emas begitu teramat panjang untuk masuk dalam kemerdekaan sejati. Kegelisahan menghampir tak menentu, dalam logika nalar tak mampu lagi menyahut pertanyaan pejuang-pejuang sejati. “Sudah sejauh mana kita menyebrang? Dimakah ujung jembatan mulia ini? Ayo kawan-kawan teruslah melangkah sampai pada kemerdekaan sebenarnya!!!
Merdeka!!!

Karya, Sergiokun Keor


Cerpen mengenang GmnI kom. Kanjuruhan Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar