Penindasan
sekarang bukan lagi penindasan fisik, melainkan penindasan ideologi, ekonomi,
pola pikir. Kapitalisme, imperialisme merajalela di negeri kita, yang pada
akhirnya menindas rakyat kita dengan keji dan sadis. Wakil rakyat justru terus
menerus makan uang rakyat, bahkan ada yang berkoalisi dengan para musuh. Bisa
apa rakyat kita? Aset kita justru dirampas orang lain. Jangan salah kalau
sampai hari ini bangsa kita tetap saja terkurung dalam kemiskinan.
Malam itu,
tampak belasan mahasiswa sedang asyiknya ngopi di sebuah gubuk bambu
tradisional. Mereka menamai gubuk tersebut, gubuk Marhaen.
“Mahasiswa
semestinya punya tanggung jawab besar terhadap perubahan dan menegakan
pancasila. Mahasiswa diajak kritis bukan hanya dalam konteks akademik saja,
melainkan turut berkontribusi dalam memecahkan berbagai masalah sosial di
tengah masyarakat.. Aku heran dengan kawan-kawan kita di luar sana bung, hanya
bisa terlelap dengan sistem global”. Pekik Rino, aktifis kelas kakap dengan
tubuh pas-pasan mengenakan jaket merah bergambar logo GMNI. Keberanian dan
kecerdasannya membuat ia disegani para mahasiwa dan dosen seantero kampus
Orange.
“Saya pun
sependapat dengan bung. Tentu untuk mencapai itu semua, haruslah dengan
kesadaran berjuang melalui banyak membaca buku dan aksi, bukan hanya eksis di
sosmed saja bung. Ha-ha-ha”. Komentar Andre, mahasiswa fakultas Geografi. Pola
nalar dan ilmunya membuat teman-teman omek lain takut berdebat dengannya.
“Bagaimana
mungkin kemerdekaan sejati tercapai? Tenaga kita habis untuk membaca dan
demonstrasi. Apa yang kita dapat? Apa yang rakyat dapat? Tidak ada kan? Kita
seperti orang gila. Aspirasi kita hanya angin lalu bagi mereka. Tak ada bukti
nyata dari ucapan dan janji-janji mereka alias kita di-php kawan-kawan”. Aster,
mahasiswa fakultas Matematika berambut gimbal dengan tampang menyeremkan kalau
lagi marah.
“Demonstrasi
terus menerus! Jangan menyerah kawan-kawan. Kita kuat karena kita satu kesatuan
anti penindasan”. Pekik Rino antusias bergelora. “Selama kita masih bernafas,
kita akan terus menerus mengguncangkan cakrawala sampai tak ada lagi
penghisapan manusia atas manusia lain”. Serunya lanjut.
“Saya sangat
setujuh kawan-kawan. Kita memang mahasiswa-mahasiswa gila. Mimpi-mimpi kaum
marhaen hanyalah imajinasi belaka kalau kita tak bersoftskill dalam
mempengaruhi massa dan bekerjasama dengan golongan sepaham”. Sahut Rian, ketua
HMPS prodi PPKN.
“hah-ha-ha-ha....
kemerdekaan sejati itu tak ada bung. Kita ini memang gila kawan-kawan..
hah-ha-ha...” komentar Rino sambil tertawa berbahak-bahak.
Dewi malam
tanpak tersenyum memancarkan cahaya sindirannya, seakan menyaksikan liku-liku hidup yang penuh lakon
dan sandiwara kemunafikan. Kelas sosial akan tetap statis, kaum miskin selamanya
akan miskin. Neokolim akan terus mewarisi kerakusan terhadap anak cucunya.
Imbasnya besar, telah menggeser jauh cita-cita luhur Pancasila. Bangsa ini
seperti tak memiliki martabat sama sekali.
“Problematika
sekarang perlu dikaji sekritis dan sedalam-dalamnya sebagai objek kita dalam
melawan! Teori- teori perlu kita makan semaksimal mungkin, untuk menjadi
landasan kita dalam berjuang”. Sahut Zeno, mahasiswa Teknik Informatika.
“Bila perlu kita
mesti mengkolaborasi ilmu-ilmu kita sesuai dengan basik akademik
masing-masing”. Pekik Rino melanjut sembari menegukkan kopi. “Kita mesti lihai
mempengaruhi massa”. Sambungnya.
“Kita harus jeli
membedakan mana kawan dan mana lawan. Perlu kawan-kawan ketahui, cita-cita kita
sangatlah mahal sebab kita bukan hanya melawan bangsa asing, kita juga harus
melawan bangsa kita sendiri. Jangan pernah merubah haluan untuk keluar dari
garis. Di luar sana begitu banyak politik, provokatif, suap yang nanti akan
menghadang kita kawan-kawan”. Pekik Yohanes, mahasiswa Georgrafi yang baru saja
lulus skripsi.
“Merdeka!.......”.
lajut Yohanes sambil mengacungkan tangan kiri tanda melawan penindasan.
“Merdeka!......”. jawab mereka kompak.
“Saya tidak
banyak berbicara, karena saya lebih melihat bagaimana kalian berjuang sehabis
ini”. Pinta Ivan, mahasiswa paling senior di gubuk sembari mengangkat bukunya “Das Kapitalis” karya Marx. “Kalian
perhatikan buku ini. Buku ini tak ada gunanya jika teori dan ilmunya tak
diamalkan”. Lanjut Ivan seakan memamerkan pengetahuan filsafatnya.
Diskusi bukan
hanya sampai malam itu. Setiap harinya, forum diskusi kian berkembang bersamaan
dengan pemikiran yang berkembang pula. Kini belasan mahasiswa pejuang-Pemikir
berhasil menyadarkan masa, baik mahasiswa maupun masyarakat.
Semua siap turun
ke jalan dengan data dan landasan matang. Berbagai aliansi sudah teramat kokoh
antara omek-omek dan ormas-ormas, serta ribuan masyarakat akan siap turun ke
jalan mengusik ibu Pertiwi. Ditambah lagi advokasi-advokasi berbagai birokrasi
dan beberapa lembaga pemerintahan yang pro kemerdekaan.
Tanggal di
kalender negara menunjukan angka 17, ketika itu raja siang mengamuk membakar
jutaan masa hampir di setiap kota-kota besar. Keringat bercucuran membasahi
dada setiap insan pejuang. Dengan sorakan dan jiwa nasionalisme telah membuka
mata Ibu Pertiwi. Dunia terguncang, terombang ambing harus bagaimana. Mata-mata
hanya tertuju di satu objek. Anjing-anjing semakin takut, hanya dapat sembunyi
di balik kotoran-kotoran mereka. Layar kaca dunia terus meliput pelosok
terbesar di bagian tenggara Asia.
Ibu pertiwi pun
melinangkan air matanya, bukan anjing- anjing asing yang tersadis menggoreskan
luka di lubuk hati terdalam, bukan juga bahagia dalam keharuan. Masih tersisah
puluh ribuan iblis yang lebih keji dari anjing jorok yang liar. Iblis yang mengalir
dalam merah darah nusantara dan menodai kesucian putihnya tulang tanah air.
Begitulah kisah
di hari kelam, tentang sejarah mengukir dimensi akan untaian perjuangan
tersistematis memperindahan lukisan ibu Pertiwi. Burung Garuda masih
mengepakkan sayapnya menjelajah angkasa raya. Senyuman hangat berseri menghiasi
wajah-wajah mungil revolusioner, petanda masih banyak pahlawan di masa kini
yang siap menabur benih kemerdekaan. Kelak masih ada pula yang melahap rakus
buah dari benih itu, dengan egois tak rela berbagi. Akankah masih ada insan
ingin berbagi dan siap menabur benih baru?
Jembatan emas
begitu teramat panjang untuk masuk dalam kemerdekaan sejati. Kegelisahan
menghampir tak menentu, dalam logika nalar tak mampu lagi menyahut pertanyaan
pejuang-pejuang sejati. “Sudah sejauh mana kita menyebrang? Dimakah ujung
jembatan mulia ini? Ayo kawan-kawan teruslah melangkah sampai pada kemerdekaan
sebenarnya!!!
Merdeka!!!
Karya,
Sergiokun Keor
Cerpen
mengenang GmnI kom. Kanjuruhan Malang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar