Memories

Memories
Memories

Rabu, 01 Maret 2017

Fajar di Timur Nusantara



Pelangi memacarkan panoramanya menghiasi air terjun wae Ri’i kala hujan menyisahkan embun senja yang menyejukan Nuca Lale. Terdengar dari kejauhan liup-liup bunyi seruling dari seorang petuah suku melantunkan nada nendong petanda senja telah tiba.  Senyuman lepas dan kalem  perlahan menyerikan wajah-wajah mungil seperti adanya. Mereka adalah Bintang, Simus dan Renaldi, tiga sahabat yang selalu bersama.  Mereka baru saja meninggalkan pondok tua milik  pak Landu. Keceriaan bocah-bocah desa itu sepertinya terlintas dari rasa  puas terhadap gundukan kayu-kayu bakar yang tadinya sudah terkumpul sebelum hujan tiba. Mereka pulang dengan  memikulkan kayu-kayu yang sudah terikat rapi.  Seperti biasa setelah jauh melangkah, kelelahan perlahan menghampir, memaksa mereka berhenti untuk beristirahat melepaskan lelah di tengah hamparan padang ilalang.  Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan hingga mereka sampai di gubuk masing-masing. Mereka menatapnya hangat menutup sore di pelosok timur nusantara. 

Nenek Bintang sangat senang, melihat cucunya pulang membawakan kayu bakar.
“Almarhum ayah dan bundamu akan bangga melihat kamu rajin seperti ini”. Lirih nenek sambil mengelus rambut Bintang.
“nenek, kan aku cucu nenek yang paling baik di kampung ini”. Sahut Bintang sambil berjalan mencari mobil kayu mainan kecilnya.
“kamu mandi dulu sana, keburu malam lo.  Awas hantu jorok akan mendekatimu kalau kamu tak mandi”
“ah... nenek! Aku mandi dulu ya”. Jawab Bintang sambil berlari menuju bahu rumah untuk mandi.
Desa Bintang masih sangat tradisional dan jauh dari jamahan perhatian pemerintah dan budaya modern. Guru-guru lulusan sarjana pun masih menyimpan keraguan   mengajar di desa Bintang.  Listrik saja belum ada, apalagi jaringan telepon. Buku dan infrastruktur belum memadai. Bahkan  ruangan  kelas hanya berlantaikan tanah dan berdinding cercahan bambu.
“Toh, memang pulau Jawa akan terus dimanjakan ibu pertiwi. Timur nusantara seperti dianaktirikan dalam keterasingan. Kalian itu harus pandai-pandai. Masa depan desa kita ada pada kalian anak-anak”. Ceramah ibu Yasinta di ujung KBM Pendidikan Kewarganegaraan di kelas Bintang.
Ketika kesendirian menghampir, selalu saja Bintang memeluk foto ayah dan ibundanya. Hanya memandang foto, tapi belum pernah sekali saja ia menatap langsung tubuh almarhum ayah dan ibundanya. 

 Dulunya Keluarga Bintang terkenal hangat dan harmonis dikalangan orang-orang desa meskipun hanya sebuah keluarga sederhana. Almarhum ayah Bintang terkenal cerdas dan lihai bermain Caci yang menurut budaya Manggarai,  tarian Caci itu tari perang sekaligus tradisi permainan warisan leluhur  oleh sepasang pria sejati yang bertarung dengan cambuk dan perisai. 

Almarhum ayah Bintang meninggal  tertembak oleh tentara Indonesia sewaktu perang timor-timor. Ayah Bintang dituding sebagai mata-mata yang bekerja untuk Timor Leste. Sehingga ia diburu dan ditembak sewaktu ia mengunjungi sahabatnya di Atambua. Sedangkan ibu Bintang meninggal sebulan setelah ayah Bintang meninggal. Ibu Bintang meninggal pasca melahirkan Bintang. Ketika itu, ibu Bintang dibantu oleh ende Gina (ibu Gina), seorang dukun beranak paling hebat di desa, karena mampu membantu melahirkan selayaknya bidan kandungan. Berkat jasa dari Ibu Gina , Bintang pun lahir dengan tubuh sehat dan imut.  Akan tetapi, ibu  Bintang menghembuskan nafas terakhirnya tepat beberapa menit setelah Bintang dilahirkan.

Bintang tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung tempat ayahnya dulu dilahirkan. Bintang  merupakan siswa SD kelas 5, sama seperti kedua sahabatnya Renaldi dan Simus.  Setiap harinya mereka menjalani rutinitas seperti bocah-bocah desa pada umumnya. Mereka sesekali bermain jauh sampai ke persawahan desa hanya untuk memancing katak sawah dan ikan atau berenang di sungai besar.  Kadang mereka juga mesti menyusuri hutan belantara hanya untuk menembak burung selayaknya pemburu dengan menggunakan katapel tradisional andalan mereka. Terlepas dari itu semua, Bintang sadar dengan tugas pokoknya, yakni: mencari kayu bakar seminggu sekali dan mencarikan makanan sapi dan kambing setiap harinya. Di usianya yang tergolong muda, ia mampu membagi aktifitasnya dengan baik. Setiap malamnya ia belajar dengan bimbingan kakek. Kadang rasa gelisahnya menggelora, sehingga ia kerap bertanya kepada kakek atau neneknya.
“Kek, aku iri sama teman-teman. Mereka semua punya ibunda dan ayah. Sedangkan aku hanyalah anak yatim piatu tak punya ayah ibu”.
“Sudahlah nak, ayah ibu kamu bahagia kok di surga. Mereka sering lo, mendatangi Bintang. Hanya Bintang tidak dapat melihat mereka. Berdoa saja ya, untuk ayah dan ibu..”. jawab kakek sambil memalingkan muka, tanda tak kuasa menahan gelisah.

Sesekali Bintang   menjatuhkan air matanya ketika kesepian. Ia teringat dengan semua cerita kakek tentang kronologi meninggalnya ibunda dan ayahnya. Kakek dan nenek hanya dapat pasrah dan mencoba semampu tenaga untuk menghibur Bintang yang tengah gelisah. Baik kakek, maupun nenek sesekali menyesal telah menceritakan semua duka itu kepada Bintang. Tapi, apalah daya, kalau tidak diceritakan, pasti  Bintang akan terus menerus penasaran dan bertanya memaksa kakek dan nenek untuk menjelaskan semuanya.  

Ketika Bintang lulus SD, nenek dikagetkan dengan ucapan Bintang.  Sehingga air mata nenek pun jatuh berderai tak kuasa mendengar rintihan kata-kata cucu kesayangan mereka yang tampak dewasa.
“Aku ingin menjadi tentara atau polisi nek untuk membalas dendam kematian ayah. Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mencari orang yang membunuh ayah. Akan aku tembak dadanya dengan pistol biar tahu rasa mereka. Aku juga akan sekolah setinggi-tingginya . Ketika aku sukses, aku akan kembali demi kakek nenek dan orang-orang kampung..  Nakek pernah bilang kan? Seandainya ayah masih hidup, pasti ibu juga tak akan meninggal kan nek? Ayo jawab nek!!!”.
“Tak boleh balas dendam nak, itu tidak baik untuk dirimu sendiri. Cukup engkau belajar dengan giat saja, ayahmu pasti bangga jika kelak engkau sukses.” Pinta nenek sambil memeluk erat tubuh Bintang..

Begitulah kehidupan Bintang dalam menjelajah waktu dan musim di pelosok negeri. Tak terasa 23 tahun sudah usai bersamaan dengan kerinduan orang kampung yang hampir melupakan Bintang dan pemuda-pemuda kampung lainnya.  Orang kampung hanya mampu mengisahan duka kelam kehidupan Bintang yang teramat piluh, sehingga memaksanya harus merantau dan meninggalkan kakek dan neneknya di masa kelam. Rentetan waktu kelam sangatlah sadis, tentang budaya kampung yang melepaskan  pemuda-pemudinya harus meninggalkan kampung menuju perantauan ketika usia mereka sudah dewasa. Tak terkecuali Bintang, terombang ambing pada tanda-tanda kehidupan barunya, yang telah membawanya pada ritual Wu’at Wa’i sebelum pergi jauh ke luar pulau bersama beberapa pemuda kampung termasuk Renaldi dan Simus. Keputusan, yang jika dikenang akan meninggalkan kisah kepedihan atau mimpi-mimpi masa depan dalam cerita dimensi. Kelam, ketika Bintang harus berpamitan, tentunya kedukaan besar bagi kakek dan nenek merelakan Bintang merantau demi masa depannya. Ia menjauh dari kampung sembari memikul tas bersama beberapa teman pemudanya. Tas yang berisikan beberapa pakaian dan ole-ole khas orang-orang kampung. Mereka diantar menggunakan beberapa kereta kuda juragan Dolo sampai ke pesisir pantai. Nantinya kapal barang akan mengangkut mereka ke tempat perantauan.

Belakangan ini beberapa pemuda sudah kembali. Tapi mereka tak dapat mengisahkan secara pasti keberadaan Bintang terhadap kakek dan nenek Bintang. Ada yang mengatakan, dulunya kerja seperusahan sama Bintang tetapi usai mereka semua dipecat, tinggal Bintang, Renaldi dan Simus yang bertahan. Ada yang mencoba menanyakan Bintang, Simus dan Renaldi  kemudian hari di tempat mereka bekerja, akan tetapi tak seorang pun buruh maupun orang perusahan yang mengetahui keberadaan Mereka. 

Lambat laut, duka besar pun tiba. Ketika nenek Bintang meninggal setelah sebulan berbaring di tempat tidur karena sakitnya teramat parah. Sehari setelah nenek Bintang disemayamkan, kakek Bintang yang sedang berduka dan orang-orang desa dikagetkan dengan kedatangan Renaldi sahabat Bintang.  Renaldi nampak berwibawa dan tampak sukses ketika ia menyumbangkan beberapa pakaian kepada orang-orang desa.
“apakah kamu mengetahui keberadaan Bintang nak?. Kakek ini sudah tua nak”. Tanya kakek dengan bersedih.
“kakek tak usah bersedih, berkat kejujuran dan kepatuhan, Bintang dijadikan anak angkat oleh bos kami. Ia disekolahkan di luar negeri. Sebelum Bintang keluar negeri, ia menitipkan surat dan uang”. Sahut Renaldi sambil menyodorkan surat dan amplop uang titipan Bintang.

Piluh kepedihan kakek sedikit terobati, ketika membaca isi surat dari Bintang. Ia jadi teringat dengan ucapan bintang kelam. “Aku ingin menjadi tentara atau polisi nek untuk membalasdendam kematian ayah. Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi dan.........”.
 Belumlah terlambat untuk bahagia, di akhir senja ada malam yang memancarkan purnama terang. Besoknya fajar akan datang, dengan embun dan mentari yang teramat indah. Akankah hidup seperti itu, suka dan dukanya memang sangat mempesona. Nikmati hidup sekali masih hidup, sebelum kita beralih ke dunia lain. Doa kakek dan nenek akan terkabul, sebab cinta akan bertumbuh bersama dengan fajar yang lama telah mati.Fajar itu bukan imajinasi dan mimpi belaka. Itu nyata bagi sebuah kemerdakaan sejati.
 Tampak siang itu hampir semua orang desa gejolak menyaksikan pemandangan asing , jauh beberapa meter diatas desa mereka, beberapa helikopter berbendera Merah Putih, masih asyiknya liup-liup bagaikan capung-capung lapar. Helikopter-helikopter itu satu per satu mendarat di atas halaman kampung. Hampir semua penghuni rumah, keluar menyaksikan itu semua. Penghuni capung-capung raksasa tersebut lantas menginjakan kaki di atas tanah Nuca Lale. Sebagian besar dari mereka tampak gagah, tampan dan cantik dengan mengenakan jas berdasi serta kacamata gelap. Mereka kemudian berkumpul membentuk barisan, lalu memberi hormat terhadap penghuni helikopter terakhir. Orang itu pun keluar dengan gagah pula dan disambut dengan hormat oleh rekan-rekannya. Ia seorang pejabat yang paling terhormat diantara penghuni capung-capung raksasa tersebut.. 

Ia juga mengenakan jas hitam berdasi dengan tulisan di bagian  dada kiri jas tersebut “Dr. IR. BINTANG FAJAR, S.S., M.Sc.
 Dia adalah ketua DPR RI. 
                              

Karya,
Sergiokun Keor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar