![]() |
| Marta dan Marten |
Teringat aku di setiap paginya sebelum aku menjalankan itu semua. Hatiku selalu damai melihat gambar wajahmu juga tulisan indah kiriman termanismu. Tulisan itu menggelora dalam jiwa yang menompang hari-hari terbaikku. Sepi menepikanku tak kala foto-fotomu kudekap erat-erat. Aku tahu kita banyak berubah seiring waktu dan jarak memisahkan raga kita. Tapi, hatiku bahagia karena aku tahu engkau sedang merindukanku.
Ketika senja kesendirian menghampiriku , aku bernyanyi menghibur hatiku yang gunda. Kesedihanku perlahan menghilang seiring Saksofon mulai kumainkan dengan lagu-lagu lawas yang amat jadul. Harmoni saksofon kian indah menghasilkan nada-nada klasik yang menyatu dengan perasaan saya. Terkadang pula aku mesti bermusikalisasi ketika kerinduanku menggebu. Segalanya terasa manis menutupi kerinduan di waktu-waktuku bercerita.
Aku terkadang bermimpi dengan
seribu euforia yang dalam anganku mendambakannya. Adrenalinku gejolak bersama
kalbu yang merindukan belaian pelukanmu Martha. Untuk itu, aku ingin setiap malamnya,
bunga tidurku membawaku padamu hingga pagi menjelang. Bukan hanya di malam
tertentu, melainkan setiap kali aku tertidur. Belaianmu mesrah memeluk erat
tubuhku hingga tak kita hiraukan lisensi yang menjungjung nilai dan kesucian.
Kemudian, hasrat terus membawa kita dalam merindu. Kenyamanan terus membawa
kita pada puncaknya. Lantas, Mungkinkah surga baru ciptaan kita memang untuk
kita.
Hari, musim silih berganti. Tak
terasa, begitu lama aku tak menemuimu meskipun begitu lama pula hatiku
dirundung piluh. Karenanya hujan pula sahabatku yang menginginkan kita terus
bersama menggapai mimpi dan menghapus kesedihan hati.
Entah mengapa, setiap kali hujan
pasti aku merindukanmu. Hujanlah jembatanku untukmu akan harapan dan
kenangan-kenangan indah denganmu. Tentang dulu ketika sekolah di kampung, aku sering kehujanan sehabis mengantarmu
pulang. Hujan juga sering datang ketika
kita bertengkar. Begitupun dihari itu, ketika langit mendung melihat kita
berpisah. Kakiku berat melangkah darimu. Aku seperti terus ditarik menjauh darimu.
Hingga langitpun tak bisa menahan air matanya dalam mendung juga kehampaan
hatimu. Alam seakan mengamuk bagaikan
penonton drama romantis yang tak sutuju kita berpisah sehingga
diturunkannya hujan besar, angin kencang,
kabut tebal dengan maksud menghalangi perjalananku menjauh darimu. Kecemasanmu
menggebu terbawa perasaan mengkhawatirkan perjalananku sehingga air matamu
jatuh membasahi pipi indahmu..
Hatiku risau, tak kuasa aku
menahan sedih lagi. Semua kenanganmu yang ada padaku akan aku tinggalkan dari hadapanku. Foto potret dirimu biarlah menjadi
simpanan antik di suatu tempat bersama dengan kenanganmu. Satu seloki arak akan
selalu kuteguk ketika mengingatmu, bahkan aku terus mencari kesibukan. Pokoknya
akan kuberusaha semampuku agak tak ada lagi bayanganmu di hadapanku. Aku selalu
terkenang denganmu. Namun tetap saja, semua usahaku sia-sia saja. Bayangmu
permanen di dalam hati dan pikiranku. Bayang itupun terus berkembang seiring
waktu.
Cerita kita bukanlah cerita
romantis Romeo dan Julia. Cerita kita sederhana tak seindah drama korea. Segala sesuatu yang terjadi
pun bahkan diluar kehendak kita. Seandainya saya boleh memilih, aku akan selalu
meminta supaya engkau selalu disisiku dan tidak ada ruang dan waktu lagi yang
dapat memisahkan raga kita. Ketika permintaanku terkabul, engkau akan mendapati
setangkai bunga harum dan segar setiap paginya di depan rumahmu. Pertanda bahwa
aku tak akan pernah berhenti mencintaimu.
Aku selalu berhayal untukmu.
Hingga suatu pagi aku tak sengaja bertemu dengan seorang nenek yang sedang
membersihkan taman di pekarang rumahnya. Aku jadi teringat padamu.
“Bunga-bunganya indah nek. Ingin
aku memiliki setangkai dari bunga-bunga itu”
“mengapa engkau menginginkannya? Bukankah
bunga-bungaku hanyalah bunga biasa? Bila engkau menginginkannya, ambillah salah
satunya” , jawab nenek itu dengan sedikit kejanggalan maksud dari
perberkataanku.
“aku melihatnya berbeda nek dari
bunga-bunga yang pernah kutemukan”, jawabku sambil memetikan salah satu dari
tangkai bunga mawar yang aku lihat paling segar.
“makasih ya nek untuk bunganya” ,
pintaku lanjut sembari berlari
meninggalkan nenek tersebut.
Nenek tua tersebut, hanya dapat
tersenyum dengan menggeleng-gelengkan
kepalanya ketika aku berpaling darinya. Nenek tersebut sepertinya mengerti
dengan tingkah yang aku lakukan sehingga ia pun tersenyum. Aku hanya ingin
menyimpan bunga itu, dengan harapan kesedihanku sedikit terobati.
Aku melukis dengan imajinasiku
mana kala aku merindukanmu. Chat dan kuas lukis menari-nari di atas bentangan.
Aku terinspirasi bukan semata-mata jelmaan ide sastrawan yang kian bergelora
menodai kertas putih dalam tatapanmu.
Imajinatifku kuno yang katanya hanya selember sampah penuh dengan coretan
murahan. Tak punya nilai apa-apa.
Geramku gelora. Ingin kucopot
semua wajah yang menghina cintaku. Tapi tetap saja aku bersabar dan dengan
pedih menutup lembaran lama. Kemudian lembaran baru kubukakan lagi.
“Bukan!” Katanya .
“baiklah akan kutuliskan lagi
yang lebih indah”
“tetap saja bukan. Kamu itu sudah
salah, masih saja ingin...........”
“Setia itu curahan cinta sejati!
Matamu memang buta! Benar telingamu tuli atau semua inderamu memang terbatas
pada khayalanmu saja?”.
Aku menjawabnya begitu karena dia
orang yang tak punya hati. Dia akhirnya
terhanyut dalam rasa malu yang dalam. Hanya menundukan wajah merahnya.
Pernahkah engkau berpikir jika dia orang yang sungguh egois. Semua tatapannya
hanya sampai pada sampul dan bagian luarnya saja . Dia melihatnya hanya dari
luar, kemudian ia pun memakan buah-buah itu dengan lahapnya. Bukankah ada juga
buah yang kalau dilihat memang indah, menawan, tapi belum tentu rasanya manis
semanis tatapan kita kan?. Biarkan dia serakah sayangku.
Aku memang bukan teknisi handal
yang selalu bisa membuat fundasi kokoh. Tapi buktinya aku melebihi kehebatan
mereka, karena aku mampu membangun fundasi cinta kita yang teramat kokoh.
Fundasi kokoh hanya akan roboh darimu. Hati ini akan merapuh bila engkau
mengelakku. Rintihan orang hanyalah setetes embun, manalah mungkin mampu
melenyapkan api cinta yang berkobar ini.
Tuhan menjawab doa kita. Engkau pun
bertemu denganku meskipun hanya sebentar. Waktu liburan engkau datang di
tempatku dan menghabiskan waktu bersamaku.. sama seperti kataku dulu, suatu
saat bunga akan mekar dengan menebarkan harumnya. Begitupun musim akan selalu
silih berganti. Benarkan? Kini engkau memang datang kepadaku.
Namun, sepertinya waktu yang
memutuskan dengan caranya. Waktu berlalu begitu cepat ketika kita dekat.
Kemudian Waktu kembali memisahkan kita semaunya. Waktu bukanlah penjahat
ataupun penghianat. Waktu hanya menguji kesabaran kita sebelum nanti waktu akan
selamanya milik kita.
Meskipun aku mengikhlaskannya,
namun tetap saja aku keberatan dan tak mampu begitu saja menjauh darimu
walaupun bukan untuk selamanya. Hingga aku pun cendrung menyendiri. Selalu saja
gunda. Saya tak bisa berkata apa-apa, bahkan aku pernah terlarut dalam khayalan
sehingga aku pun seperti bicara sendiri.
“seandainya aku memiliki sihir,
aku akan akan menghilang untuk menemuimu setiap harinya”
Waktu terus berlalu, hingga suatu
hari aku dikagetkan oleh kehadiranmu yang secara tiba-tiba. Aku tak pernah tahu
darimana datangmu. Tiba-tiba aku tidur bersamamu di ranjang yang sama. Tubuhku seakan
melayang bersamamu dalam puncak kenyamanan yang tak terelakan. Dua tanganmu
kekar dan begitu kuat memelukku. Kita saling bertatapan. Aku pun tertidur lelap
sekali. Aku lantas merasakan hangat pelukmu...
Paginya aku terbangun karena
usikmu mengganggu tidur lelapku. Engkau bernyanyi dengan suaramu yang keras.
“Ayo goyang dumang.. bebaskanlah hatimu, ayo goyang
dumang......”
Aku pun berusaha melepaskan
pelukanku pada dirimu.
...................................
Saat itu pula aku baru sadar
kalau yang aku peluk semalaman bukanlah dirimu melainkan bantal guling kesayanganku. Suara
bising yang membangunkanku pun hanyalah suara alarm telfon genggamku...
Karya,
Sergiokun Keor

Tidak ada komentar:
Posting Komentar