Memories

Memories
Memories

Kamis, 26 Januari 2017

Pelukan Hangat Marta

Marta dan Marten
Saya adalah Marten. Waktu itu, matahari terbit begitu memukau, menerangi pepohonan rimbun yang menebarkan kesejukkan khas menyapa pagi istimewaku. Aku  disambut  alam  menakjubkan,  mengantarku di tanggal tentang hari pertamaku mengenalmu.  Sungguh alam yang luar biasa. Khusus pagi ini, aku memilih joggin keluar. Berbeda dengan kebiasaanku setiap pagi sebelumnya, aku selalu menghabiskan waktu di balkon  sembari menikmati secangkir kopi. 

Teringat aku di setiap paginya sebelum aku menjalankan itu semua.  Hatiku selalu damai melihat gambar wajahmu juga tulisan indah kiriman termanismu. Tulisan itu menggelora dalam jiwa yang menompang  hari-hari terbaikku.  Sepi menepikanku tak kala foto-fotomu kudekap erat-erat. Aku tahu kita banyak berubah seiring waktu dan jarak memisahkan raga kita.  Tapi, hatiku bahagia  karena aku tahu engkau sedang merindukanku.

Ketika senja kesendirian menghampiriku  ,  aku   bernyanyi menghibur hatiku yang gunda. Kesedihanku perlahan menghilang seiring Saksofon mulai kumainkan dengan lagu-lagu lawas yang amat jadul. Harmoni saksofon kian indah menghasilkan nada-nada klasik yang menyatu dengan perasaan saya. Terkadang pula aku mesti bermusikalisasi ketika kerinduanku menggebu. Segalanya terasa manis menutupi kerinduan di waktu-waktuku bercerita. 
Aku terkadang bermimpi dengan seribu euforia yang dalam anganku mendambakannya. Adrenalinku gejolak bersama kalbu yang merindukan belaian pelukanmu Martha. Untuk itu, aku ingin setiap malamnya, bunga tidurku membawaku padamu hingga pagi menjelang. Bukan hanya di malam tertentu, melainkan setiap kali aku tertidur. Belaianmu mesrah memeluk erat tubuhku hingga tak kita hiraukan lisensi yang menjungjung nilai dan kesucian. Kemudian, hasrat terus membawa kita dalam merindu. Kenyamanan terus membawa kita pada puncaknya. Lantas, Mungkinkah surga baru ciptaan kita memang untuk kita.
Hari, musim silih berganti. Tak terasa, begitu lama aku tak menemuimu meskipun begitu lama pula hatiku dirundung piluh. Karenanya hujan pula sahabatku yang menginginkan kita terus bersama menggapai mimpi dan menghapus kesedihan hati. 
Entah mengapa, setiap kali hujan pasti aku merindukanmu. Hujanlah jembatanku untukmu akan harapan dan kenangan-kenangan indah denganmu. Tentang dulu ketika sekolah di kampung,  aku sering kehujanan sehabis mengantarmu pulang.  Hujan juga sering datang ketika kita bertengkar. Begitupun dihari itu, ketika langit mendung melihat kita berpisah. Kakiku berat melangkah darimu. Aku seperti terus ditarik menjauh darimu. Hingga langitpun tak bisa menahan air matanya dalam mendung juga kehampaan hatimu. Alam  seakan mengamuk bagaikan penonton drama romantis yang tak sutuju kita berpisah sehingga diturunkannya  hujan besar, angin kencang, kabut tebal dengan maksud menghalangi perjalananku menjauh darimu. Kecemasanmu menggebu terbawa perasaan mengkhawatirkan perjalananku sehingga air matamu jatuh membasahi pipi indahmu.. 
Hatiku risau, tak kuasa aku menahan sedih lagi. Semua kenanganmu yang ada padaku akan aku tinggalkan dari  hadapanku. Foto potret dirimu biarlah menjadi simpanan antik di suatu tempat bersama dengan kenanganmu. Satu seloki arak akan selalu kuteguk ketika mengingatmu, bahkan aku terus mencari kesibukan. Pokoknya akan kuberusaha semampuku agak tak ada lagi bayanganmu di hadapanku. Aku selalu terkenang denganmu. Namun tetap saja, semua usahaku sia-sia saja. Bayangmu permanen di dalam hati dan pikiranku. Bayang itupun terus berkembang seiring waktu.
Cerita kita bukanlah cerita romantis Romeo dan Julia. Cerita kita sederhana tak seindah  drama korea. Segala sesuatu yang terjadi pun bahkan diluar kehendak kita. Seandainya saya boleh memilih, aku akan selalu meminta supaya engkau selalu disisiku dan tidak ada ruang dan waktu lagi yang dapat memisahkan raga kita. Ketika permintaanku terkabul, engkau akan mendapati setangkai bunga harum dan segar setiap paginya di depan rumahmu. Pertanda bahwa aku tak akan pernah berhenti mencintaimu. 
Aku selalu berhayal untukmu. Hingga suatu pagi aku tak sengaja bertemu dengan seorang nenek yang sedang membersihkan taman di pekarang rumahnya. Aku jadi teringat padamu.
“Bunga-bunganya indah nek. Ingin aku memiliki setangkai dari bunga-bunga itu”
“mengapa engkau menginginkannya? Bukankah bunga-bungaku hanyalah bunga biasa? Bila engkau menginginkannya, ambillah salah satunya” , jawab nenek itu dengan sedikit kejanggalan maksud dari perberkataanku.
“aku melihatnya berbeda nek dari bunga-bunga yang pernah kutemukan”, jawabku sambil memetikan salah satu dari tangkai bunga mawar yang aku lihat paling segar.
“makasih ya nek untuk bunganya” , pintaku lanjut sembari  berlari meninggalkan nenek tersebut.
Nenek tua tersebut, hanya dapat tersenyum dengan  menggeleng-gelengkan kepalanya ketika aku berpaling darinya. Nenek tersebut sepertinya mengerti dengan tingkah yang aku lakukan sehingga ia pun tersenyum. Aku hanya ingin menyimpan bunga itu, dengan harapan kesedihanku sedikit terobati.
Aku melukis dengan imajinasiku mana kala aku merindukanmu. Chat dan kuas lukis menari-nari di atas bentangan. Aku terinspirasi bukan semata-mata jelmaan ide sastrawan yang kian bergelora menodai kertas  putih dalam tatapanmu. Imajinatifku kuno yang katanya hanya selember sampah penuh dengan coretan murahan. Tak punya nilai apa-apa.
Geramku gelora. Ingin kucopot semua wajah yang menghina cintaku. Tapi tetap saja aku bersabar dan dengan pedih menutup lembaran lama. Kemudian lembaran baru kubukakan lagi.
“Bukan!” Katanya .
“baiklah akan kutuliskan lagi yang lebih indah”
“tetap saja bukan. Kamu itu sudah salah, masih saja ingin...........”
“Setia itu curahan cinta sejati! Matamu memang buta! Benar telingamu tuli atau semua inderamu memang terbatas pada khayalanmu saja?”.
Aku menjawabnya begitu karena dia orang yang tak punya hati.  Dia akhirnya terhanyut dalam rasa malu yang dalam. Hanya menundukan wajah merahnya. Pernahkah engkau berpikir jika dia orang yang sungguh egois. Semua tatapannya hanya sampai pada sampul dan bagian luarnya saja . Dia melihatnya hanya dari luar, kemudian ia pun memakan buah-buah itu dengan lahapnya. Bukankah ada juga buah yang kalau dilihat memang indah, menawan, tapi belum tentu rasanya manis semanis tatapan kita kan?. Biarkan dia serakah sayangku. 
Aku memang bukan teknisi handal yang selalu bisa membuat fundasi kokoh. Tapi buktinya aku melebihi kehebatan mereka, karena aku mampu membangun fundasi cinta kita yang teramat kokoh. Fundasi kokoh hanya akan roboh darimu. Hati ini akan merapuh bila engkau mengelakku. Rintihan orang hanyalah setetes embun, manalah mungkin mampu melenyapkan api cinta yang berkobar ini.
Tuhan menjawab doa kita. Engkau pun bertemu denganku meskipun hanya sebentar. Waktu liburan engkau datang di tempatku dan menghabiskan waktu bersamaku.. sama seperti kataku dulu, suatu saat bunga akan mekar dengan menebarkan harumnya. Begitupun musim akan selalu silih berganti. Benarkan? Kini engkau memang datang kepadaku. 
Namun, sepertinya waktu yang memutuskan dengan caranya. Waktu berlalu begitu cepat ketika kita dekat. Kemudian Waktu kembali memisahkan kita semaunya. Waktu bukanlah penjahat ataupun penghianat. Waktu hanya menguji kesabaran kita sebelum nanti waktu akan selamanya milik kita.
Meskipun aku mengikhlaskannya, namun tetap saja aku keberatan dan tak mampu begitu saja menjauh darimu walaupun bukan untuk selamanya. Hingga aku pun cendrung menyendiri. Selalu saja gunda. Saya tak bisa berkata apa-apa, bahkan aku pernah terlarut dalam khayalan sehingga aku pun seperti bicara sendiri.
“seandainya aku memiliki sihir, aku akan akan menghilang untuk menemuimu setiap harinya”
Waktu terus berlalu, hingga suatu hari aku dikagetkan oleh kehadiranmu yang secara tiba-tiba. Aku tak pernah tahu darimana datangmu. Tiba-tiba aku tidur bersamamu di ranjang yang sama. Tubuhku seakan melayang bersamamu dalam puncak kenyamanan yang tak terelakan. Dua tanganmu kekar dan begitu kuat memelukku. Kita saling bertatapan. Aku pun tertidur lelap sekali. Aku lantas merasakan hangat pelukmu...
Paginya aku terbangun karena usikmu mengganggu tidur lelapku. Engkau bernyanyi dengan suaramu yang keras.
“Ayo  goyang dumang.. bebaskanlah hatimu, ayo goyang dumang......”
Aku pun berusaha melepaskan pelukanku pada dirimu.
...................................
Saat itu pula aku baru sadar kalau yang aku peluk semalaman bukanlah dirimu melainkan bantal guling kesayanganku. Suara bising yang membangunkanku pun hanyalah suara alarm telfon genggamku...

            Karya, Sergiokun Keor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar