Pelangi
memacarkan panoramanya menghiasi air terjun wae
Ri’i kala hujan menyisahkan embun senja yang menyejukan Nuca Lale. Terdengar dari kejauhan
liup-liup bunyi seruling dari seorang petuah suku melantunkan nada nendong petanda senja telah tiba. Senyuman lepas dan kalem perlahan menyerikan wajah-wajah mungil seperti
adanya. Mereka adalah Bintang, Simus dan Renaldi, tiga sahabat yang selalu
bersama. Mereka baru saja meninggalkan
pondok tua milik pak Landu. Keceriaan
bocah-bocah desa itu sepertinya terlintas dari rasa puas terhadap gundukan kayu-kayu bakar yang
tadinya sudah terkumpul sebelum hujan tiba. Mereka pulang dengan memikulkan kayu-kayu yang sudah terikat rapi.
Seperti biasa setelah jauh melangkah, kelelahan
perlahan menghampir, memaksa mereka berhenti untuk beristirahat melepaskan
lelah di tengah hamparan padang ilalang. Setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan hingga
mereka sampai di gubuk masing-masing. Mereka menatapnya hangat menutup sore di
pelosok timur nusantara.
Nenek
Bintang sangat senang, melihat cucunya pulang membawakan kayu bakar.
“Almarhum
ayah dan bundamu akan bangga melihat kamu rajin seperti ini”. Lirih nenek
sambil mengelus rambut Bintang.
“nenek,
kan aku cucu nenek yang paling baik di kampung ini”. Sahut Bintang sambil
berjalan mencari mobil kayu mainan kecilnya.
“kamu
mandi dulu sana, keburu malam lo. Awas
hantu jorok akan mendekatimu kalau kamu tak mandi”
“ah...
nenek! Aku mandi dulu ya”. Jawab Bintang sambil berlari menuju bahu rumah untuk
mandi.
Desa
Bintang masih sangat tradisional dan jauh dari jamahan perhatian pemerintah dan
budaya modern. Guru-guru lulusan sarjana pun masih menyimpan keraguan mengajar di desa Bintang. Listrik saja belum ada, apalagi jaringan
telepon. Buku dan infrastruktur belum memadai. Bahkan ruangan kelas hanya berlantaikan tanah dan berdinding
cercahan bambu.
“Toh,
memang pulau Jawa akan terus dimanjakan ibu pertiwi. Timur nusantara seperti
dianaktirikan dalam keterasingan. Kalian itu harus pandai-pandai. Masa depan
desa kita ada pada kalian anak-anak”. Ceramah ibu Yasinta di ujung KBM
Pendidikan Kewarganegaraan di kelas Bintang.
Ketika
kesendirian menghampir, selalu saja Bintang memeluk foto ayah dan ibundanya.
Hanya memandang foto, tapi belum pernah sekali saja ia menatap langsung tubuh
almarhum ayah dan ibundanya.
Dulunya Keluarga Bintang terkenal hangat dan
harmonis dikalangan orang-orang desa meskipun hanya sebuah keluarga sederhana. Almarhum
ayah Bintang terkenal cerdas dan lihai bermain Caci yang menurut budaya Manggarai,
tarian Caci itu tari perang sekaligus tradisi permainan warisan leluhur oleh sepasang pria sejati yang bertarung
dengan cambuk dan perisai.
Almarhum
ayah Bintang meninggal tertembak oleh
tentara Indonesia sewaktu perang timor-timor. Ayah Bintang dituding sebagai
mata-mata yang bekerja untuk Timor Leste. Sehingga ia diburu dan ditembak sewaktu
ia mengunjungi sahabatnya di Atambua. Sedangkan ibu Bintang meninggal sebulan
setelah ayah Bintang meninggal. Ibu Bintang meninggal pasca melahirkan Bintang.
Ketika itu, ibu Bintang dibantu oleh ende
Gina (ibu Gina), seorang dukun beranak paling hebat di desa, karena mampu
membantu melahirkan selayaknya bidan kandungan. Berkat jasa dari Ibu Gina ,
Bintang pun lahir dengan tubuh sehat dan imut. Akan tetapi, ibu Bintang menghembuskan nafas terakhirnya tepat
beberapa menit setelah Bintang dilahirkan.
Bintang
tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung tempat ayahnya dulu dilahirkan.
Bintang merupakan siswa SD kelas 5, sama
seperti kedua sahabatnya Renaldi dan Simus. Setiap harinya mereka menjalani rutinitas
seperti bocah-bocah desa pada umumnya. Mereka sesekali bermain jauh sampai ke
persawahan desa hanya untuk memancing katak sawah dan ikan atau berenang di
sungai besar. Kadang mereka juga mesti
menyusuri hutan belantara hanya untuk menembak burung selayaknya pemburu dengan
menggunakan katapel tradisional andalan mereka. Terlepas dari itu semua,
Bintang sadar dengan tugas pokoknya, yakni: mencari kayu bakar seminggu sekali
dan mencarikan makanan sapi dan kambing setiap harinya. Di usianya yang tergolong
muda, ia mampu membagi aktifitasnya dengan baik. Setiap malamnya ia belajar
dengan bimbingan kakek. Kadang rasa gelisahnya menggelora, sehingga ia kerap
bertanya kepada kakek atau neneknya.
“Kek,
aku iri sama teman-teman. Mereka semua punya ibunda dan ayah. Sedangkan aku
hanyalah anak yatim piatu tak punya ayah ibu”.
“Sudahlah
nak, ayah ibu kamu bahagia kok di surga. Mereka sering lo, mendatangi Bintang.
Hanya Bintang tidak dapat melihat mereka. Berdoa saja ya, untuk ayah dan
ibu..”. jawab kakek sambil memalingkan muka, tanda tak kuasa menahan gelisah.
Sesekali
Bintang menjatuhkan air matanya ketika kesepian. Ia
teringat dengan semua cerita kakek tentang kronologi meninggalnya ibunda dan
ayahnya. Kakek dan nenek hanya dapat pasrah dan mencoba semampu tenaga untuk
menghibur Bintang yang tengah gelisah. Baik kakek, maupun nenek sesekali
menyesal telah menceritakan semua duka itu kepada Bintang. Tapi, apalah daya,
kalau tidak diceritakan, pasti Bintang
akan terus menerus penasaran dan bertanya memaksa kakek dan nenek untuk
menjelaskan semuanya.
Ketika
Bintang lulus SD, nenek dikagetkan dengan ucapan Bintang. Sehingga air mata nenek pun jatuh berderai
tak kuasa mendengar rintihan kata-kata cucu kesayangan mereka yang tampak
dewasa.
“Aku
ingin menjadi tentara atau polisi nek untuk membalas dendam kematian ayah.
Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi dan
mencari orang yang membunuh ayah. Akan aku tembak dadanya dengan pistol biar
tahu rasa mereka. Aku juga akan sekolah setinggi-tingginya . Ketika aku sukses,
aku akan kembali demi kakek nenek dan orang-orang kampung.. Nakek pernah bilang kan? Seandainya ayah masih
hidup, pasti ibu juga tak akan meninggal kan nek? Ayo jawab nek!!!”.
“Tak
boleh balas dendam nak, itu tidak baik untuk dirimu sendiri. Cukup engkau
belajar dengan giat saja, ayahmu pasti bangga jika kelak engkau sukses.” Pinta
nenek sambil memeluk erat tubuh Bintang..
Begitulah
kehidupan Bintang dalam menjelajah waktu dan musim di pelosok negeri. Tak
terasa 23 tahun sudah usai bersamaan dengan kerinduan orang kampung yang hampir
melupakan Bintang dan pemuda-pemuda kampung lainnya. Orang kampung hanya mampu mengisahan duka
kelam kehidupan Bintang yang teramat piluh, sehingga memaksanya harus merantau
dan meninggalkan kakek dan neneknya di masa kelam. Rentetan waktu kelam sangatlah
sadis, tentang budaya kampung yang melepaskan pemuda-pemudinya harus meninggalkan kampung menuju
perantauan ketika usia mereka sudah dewasa. Tak terkecuali Bintang, terombang
ambing pada tanda-tanda kehidupan barunya, yang telah membawanya pada ritual Wu’at Wa’i sebelum pergi jauh ke luar
pulau bersama beberapa pemuda kampung termasuk Renaldi dan Simus. Keputusan, yang
jika dikenang akan meninggalkan kisah kepedihan atau mimpi-mimpi masa depan
dalam cerita dimensi. Kelam, ketika Bintang harus berpamitan, tentunya kedukaan
besar bagi kakek dan nenek merelakan Bintang merantau demi masa depannya. Ia
menjauh dari kampung sembari memikul tas bersama beberapa teman pemudanya. Tas
yang berisikan beberapa pakaian dan ole-ole khas orang-orang kampung. Mereka
diantar menggunakan beberapa kereta kuda juragan Dolo sampai ke pesisir pantai.
Nantinya kapal barang akan mengangkut mereka ke tempat perantauan.
Belakangan
ini beberapa pemuda sudah kembali. Tapi mereka tak dapat mengisahkan secara
pasti keberadaan Bintang terhadap kakek dan nenek Bintang. Ada yang mengatakan,
dulunya kerja seperusahan sama Bintang tetapi usai mereka semua dipecat,
tinggal Bintang, Renaldi dan Simus yang bertahan. Ada yang mencoba menanyakan
Bintang, Simus dan Renaldi kemudian hari
di tempat mereka bekerja, akan tetapi tak seorang pun buruh maupun orang
perusahan yang mengetahui keberadaan Mereka.
Lambat
laut, duka besar pun tiba. Ketika nenek Bintang meninggal setelah sebulan
berbaring di tempat tidur karena sakitnya teramat parah. Sehari setelah nenek
Bintang disemayamkan, kakek Bintang yang sedang berduka dan orang-orang desa
dikagetkan dengan kedatangan Renaldi sahabat Bintang. Renaldi nampak berwibawa dan tampak sukses
ketika ia menyumbangkan beberapa pakaian kepada orang-orang desa.
“apakah
kamu mengetahui keberadaan Bintang nak?. Kakek ini sudah tua nak”. Tanya kakek
dengan bersedih.
“kakek
tak usah bersedih, berkat kejujuran dan kepatuhan, Bintang dijadikan anak
angkat oleh bos kami. Ia disekolahkan di luar negeri. Sebelum Bintang keluar
negeri, ia menitipkan surat dan uang”. Sahut Renaldi sambil menyodorkan surat
dan amplop uang titipan Bintang.
Piluh
kepedihan kakek sedikit terobati, ketika membaca isi surat dari Bintang. Ia jadi
teringat dengan ucapan bintang kelam. “Aku ingin menjadi tentara atau polisi
nek untuk membalasdendam kematian ayah. Ketika dewasa nanti aku akan ke Jawa
untuk mengenyam pendidikan tinggi dan.........”.
Belumlah terlambat untuk bahagia, di akhir
senja ada malam yang memancarkan purnama terang. Besoknya fajar akan datang,
dengan embun dan mentari yang teramat indah. Akankah hidup seperti itu, suka
dan dukanya memang sangat mempesona. Nikmati hidup sekali masih hidup, sebelum
kita beralih ke dunia lain. Doa kakek dan nenek akan terkabul, sebab cinta akan
bertumbuh bersama dengan fajar yang lama telah mati.Fajar itu bukan imajinasi
dan mimpi belaka. Itu nyata bagi sebuah kemerdakaan sejati.
Tampak siang itu hampir semua orang desa
gejolak menyaksikan pemandangan asing , jauh beberapa meter diatas desa mereka,
beberapa helikopter berbendera Merah Putih, masih asyiknya liup-liup bagaikan
capung-capung lapar. Helikopter-helikopter itu satu per satu mendarat di atas
halaman kampung. Hampir semua penghuni rumah, keluar menyaksikan itu semua. Penghuni
capung-capung raksasa tersebut lantas menginjakan kaki di atas tanah Nuca Lale. Sebagian besar dari mereka
tampak gagah, tampan dan cantik dengan mengenakan jas berdasi serta kacamata
gelap. Mereka kemudian berkumpul membentuk barisan, lalu memberi hormat
terhadap penghuni helikopter terakhir. Orang itu pun keluar dengan gagah pula dan
disambut dengan hormat oleh rekan-rekannya. Ia seorang pejabat yang paling
terhormat diantara penghuni capung-capung raksasa tersebut..
Ia
juga mengenakan jas hitam berdasi dengan tulisan di bagian dada kiri jas tersebut “Dr. IR. BINTANG FAJAR, S.S., M.Sc.
Dia adalah ketua DPR RI.
Karya,
Sergiokun
Keor